Sabtu, Juli 20, 2024
30.9 C
Jakarta

 Melejit 153,90%, Laba RMKE  Capai Rp296,37 Miliar per September 2022

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT RMK Energy Tbk (RMKE) mencatat pertumbuhan laba sebesar 153,90% menjadi  Rp296,37 miliar pada kuartal III 2022. Kenaikan laba Perseroan seiring melonjaknya pendapatan usaha  secara signifikan sebesar 121,66% menjadi Rp1,90 triliun per September 2022.

Menurut Tony Saputra, Direktur Utama RMKE, peningkatan kinerja keuangan tersebut didukung oleh naiknya perfoma operasional Perseroan. Dari segmen penjualan batubara, RMKE mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 160,02% jadi Rp1,52 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan pendapatan penjualan batubara ini sejalan dengan kenaikan volume penjualan batubara sebesar 38,36% menjadi 1,62 juta ton selama periode Januari-September 2022. Pendapatan tersebut berkontribusi sebesar 79,53% terhadap total pendapatan Perseroan.

Hingga September 2022, laba kotor RMKE yang berasal dari segmen penjualan batubara mencapai Rp324,17 miliar, naik sebesar 188,87% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Segmen ini berkontribusi sekitar 74,37% terhadap total laba kotor Perseroan.

Dari segmen jasa batubara, pendapatan usaha RMKE naik 40.91% menjadi sebesar Rp389,94 miliar. Kenaikan pendapatan penjualan batubara ini ditopang oleh meningkatnya volume jasa batubara sebesar 44,54%. Sampai dengan September 2022, volume jasa batubara mencapai 5,46 juta ton atau naik sebesar 21,08% YoY. Segmen ini memberikan kontribusi sebesar 20,47% ke total pendapatan Perseroan. Adapun laba kotor yang berasal dari segmen jasa batubara mencapai Rp111,72 miliar atau meningkat sebesar 39,51% secara tahunan. Total kontribusi segmen ini terhadap laba kotor RMKE tercatat sebesar 25,63%.

“Kinerja keuangan Perseroan masih on track dan sesuai dengan harapan dan target manajemen. Secara rata-rata Perseroan telah mencapai 83,50% target keuangan tahun ini, hal tersebut didukung oleh kenaikan harga batubara dan meningkatnya volume kebutuhan batubara. Manajemen optimistis kebutuhan batubara masih akan meningkat kedepannya untuk memenuhi kebutuhan energy security pada kondisi ekonomi global yang masih belum pulih sepenuhnya pasca pandemi dan kondisi geopolitik dunia,” ujarnya, dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (21/11).

“Pada tahun ini, Perseroan telah berhasil mengimplementasikan strategi perusahaan dengan beroperasinya tambang batubara in-house PT Truba Bara Banyu Enim, stasiun muat Gunung Megang, serta Container Yard (CY) 3B Stasiun Simpang. Ketiga fasilitas tersebut menjadi pelengkap operasional yang kuat untuk RMK Energy secara Group. Ke depannya, Perseroan masih akan terus mengembangkan usaha dengan membangun hauling road yang terintegrasi dengan jalur kereta serta membuka peluang kolaborasi di sektor energi” tambah Tony.

William Saputra, Direktur Operasional RMKE mengemukakan, energy security merupakan peluang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan manca negara. “Pada tahun ini, Perseroan menargetkan angkutan batubara sebesar 7,82 juta ton dan telah tercapai 69,80%. Untuk segmen penjualan batubara manajemen menargetkan volume sebesar 2,26 juta ton di mana 50% target tersebut berasal dari tambang in-house PT Truba Bara Banyu Enim. Hingga September 2022, volume penjualan batubara telah mencapai 1,62 juta ton atau telah mencapai 71,78% target tahun ini,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Vincent Saputra, Direktur Keuangan Perseroan  menjelaskan, tahun ini RMKE menargetkan pendapatan usaha sebesar Rp2,5 triliun dan laba usaha Rp375,40 miliar. “Hingga September 2022 telah tercapai masing-masing sebesar 76,92% dan 78,95%. Pencapaian target tersebut mendukung Perseroan menjaga rasio keuangan EBITDA terhadap beban kewajiban, di atas ketentuan minimum credit covenant sebesar 19,68 kali,” jelasnya.

Vincent menambahkan, pada kuartal ketiga 2022,  Perseroan telah berhasil mengelola rasio-rasio keuangan di atas ketentuan minimum credit covenant. Perseroan berhasil mengurangi utang finansial sebesar 32,59% menjadi Rp289,06 miliar sehingga mencapai rasio Debt to Equity (DER) sebesar 0,26 kali dan EBITDA rasio pada level 19,68 kali.

“Perbaikan rasio keuangan ini juga didukung oleh peningkatan ekuitas Perseroan yang meningkat sebesar 36,92% YoY menjadi Rp1,10 triliun. Arus kas Perseroan secara berkelanjutan juga masih sehat dengan kas dari operasi yang positif dan kas dari pembiayaan yang menurun.” jelas Vincent.

Artikel Terkait

Usai Diakuisisi Jinxin Singapore, Anak Usaha Bundamedik Siap Taklukkan Pasar IVF Indonesia dan Asean!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Morula Indonesia (MI), anak perusahaan...

Akuisisi 30% Saham Anak Usaha BMHS, Jinxin Singapore Rogoh Kocek Rp422,030 Miliar!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) -  PT Bundamedik Tbk (BMHS) telah menyelesaikan...

KSEI Tambah 8 Bank Baru! 23 Bank Kini Jadi Administrator RDN dan Pembayaran

STOCKWATCHNEWS.COM (JAKARTA) – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru