STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) mencatat performa keuangan gemilang sebelum melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp32,44 miliar pada 2025. Angka ini melonjak tajam 188,23% dibandingkan Rp11,25 miliar pada tahun 2024.
Menurut data prospektus awal perseroan, pertumbuhan laba ini didorong oleh kenaikan pendapatan yang signifikan. Penjualan bersih tercatat mencapai Rp454,64 miliar pada 2025. Nilai tersebut naik 18,11% dari Rp384,93 miliar di tahun sebelumnya.
Kemenangan dalam berbagai tender menjadi kunci utama pendapatan. Perseroan memenangkan tender dari Islamic Development Program (IsDB) dan World Bank. Segmen pemerintah menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan Rp436,89 miliar atau 98,49% dari total penjualan. Sementara itu, segmen bukan pemerintah memberikan kontribusi sebesar Rp17,74 miliar.
Seiring kenaikan penjualan, beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp291,21 miliar dari Rp249,02 miliar pada 2024. Meski begitu, perseroan tetap mengantongi laba kotor sebesar Rp163,43 miliar. Jumlah ini tumbuh 20,24% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp135,91 miliar.
Manajemen juga menjaga efisiensi biaya operasional. Beban usaha tercatat sebesar Rp96,59 miliar, hanya naik tipis dari Rp95,32 miliar pada 2024. Di sisi lain, beban bunga berada di angka Rp30,44 miliar, sedikit meningkat dari Rp29,51 miliar di tahun lalu.
Berdasarkan dokumen tersebut, manajemen sangat optimistis dengan masa depan industri kesehatan. “Perseroan berkeyakinan bisnis operasional perusahaan dapat terus berkembang seiring dengan adanya pertumbuhan kinerja sektoral kesehatan,” tulis manajemen.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per Desember 2025 berada di angka Rp564,44 miliar. Nilai ini turun 20,99% dari Rp714,39 miliar pada 2024. Penurunan aset terjadi karena perseroan melakukan pelunasan utang bank dan utang usaha dalam jumlah besar.
Kekuatan neraca terlihat dari posisi ekuitas yang melesat 97,64% menjadi Rp145,01 miliar. Perseroan juga berhasil menekan total liabilitas sebesar 34,57% menjadi Rp419,42 miliar dari sebelumnya Rp641,02 miliar. Untuk rasio keuangan, perseroan mencatat tingkat imbal hasil aset (ROA) sebesar 6% dan imbal hasil ekuitas (ROE) sebesar 22%.
Kinerja positif ini menjadi modal kuat bagi perseroan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Esa Medika menawarkan sebanyak-banyaknya 522,85 juta saham baru atau mewakili 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Harga penawaran awal dipatok pada rentang Rp446 sampai Rp515 per saham. Melalui aksi korporasi ini, perseroan mengincar dana segar maksimal Rp269,27 miliar. Masa penawaran awal berlangsung pada 22-24 Juni 2026, dan saham dijadwalkan tercatat di BEI pada 8 Juli 2026

