STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) berencana masuk ke Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Perusahaan penyedia alat kesehatan ini membawa kabar gembira bagi calon investor. Manajemen berencana membagikan dividen tunai dengan jumlah cukup besar.
EMMI berkomitmen memberikan keuntungan kepada para pemegang sahamnya. Perusahaan akan membagikan dividen tunai paling banyak 30% dari laba bersih tahun berjalan. Kebijakan ini mulai berlaku untuk tahun buku yang berakhir pada 2027 dan seterusnya.
Florian Chris Widjaja, Direktur Utama EMMI, menjadi sosok di balik langkah strategis ini. Florian menyebut pembagian dividen akan bergantung pada hasil kegiatan usaha dan arus kas perusahaan. Keputusan akhir tetap berada di tangan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan.
“Besarnya pembagian dividen ditentukan berdasarkan hasil RUPS Tahunan Perseroan,” ujar Florian.
Dalam aksi IPO ini, EMMI menawarkan paling banyak 522,857 juta saham biasa atas nama. Jumlah tersebut mewakili 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Saham baru ini dikeluarkan dari portepel perusahaan dengan nilai nominal Rp50 per lembar.
Harga penawaran saham dibanderol pada rentang Rp446 sampai Rp515 per saham. Melalui langkah ini, EMMI berpotensi meraup dana segar maksimal Rp269,27 miliar. Perusahaan juga menyiapkan program alokasi saham untuk karyawan (ESA) sebanyak 10% dari jumlah saham yang ditawarkan.
Dana hasil IPO sudah memiliki rencana penggunaan yang jelas. Sebesar Rp50 miliar akan dipakai untuk membayar sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Ina Perdana Tbk. Langkah ini diambil guna memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Sekitar 11,8% dana akan digunakan untuk pengembangan usaha. EMMI berencana membangun gedung pabrik baru di Cikupa, Tangerang. Sisanya, sekitar 68,7%, akan digunakan sebagai modal kerja. Dana ini untuk membeli persediaan alat kesehatan dari pihak afiliasi maupun pihak ketiga.
Kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tren yang sangat baik. Pada 2025, ESA mencatat penjualan bersih sebesar Rp454,63 miliar. Angka ini naik signifikan jika dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang tercatat Rp384,93 miliar.
Laba bersih tahun berjalan juga melonjak tinggi. Perusahaan berhasil membukukan laba Rp32,43 miliar pada 2025. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun 2024 yang hanya sebesar Rp11,25 miliar.
Masa penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan pada 22 Juni sampai 24 Juni 2026. Tanggal efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada 30 Juni 2026. Selanjutnya, masa penawaran umum perdana akan berlangsung pada 2 Juli hingga 6 Juli 2026.
Penjatahan saham dilakukan pada 6 Juli 2026. Distribusi saham secara elektronik akan dimulai pada 7 Juli 2026. Jika semua berjalan lancar, saham EMMI akan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026.
EMMI menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Ina Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Perusahaan yang bermarkas di Tangerang ini optimis langkah go public akan memperkuat posisi mereka di industri alat kesehatan nasional

