STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menegaskan likuiditasnya dalam kondisi sangat baik. Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja, mengatakan, Loan to Deposit Ratio (LDR) Perseroan mencapai 72%. Angka ini menunjukkan bahwa likuiditas BCA lebih baik dibandingkan rata-rata pasar yang berkisar antara 82%-85%.
“Kalau kondisi likuiditas ya, saya pikir BCA termasuk yang cukup likuid sekali. Artinya LDR kita itu sekitar 72% ya,” kata Jahja dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (24/7/2024).
BCA juga mengalami peningkatan likuiditas dari tahun ke tahun. “Kalau saya tidak salah yang lalu sekitar 68%, sekarang menjadi 72% ya,” tambah Jahja. Hal ini mencerminkan posisi likuiditas BCA yang terus membaik.
Jahja juga menjelaskan bahwa tugas utama BCA yang sangat menguntungkan adalah penyaluran kredit. “Karena kredit itu bukan hanya kita mendapatkan bunga kredit, tetapi relationship dengan nasabah dalam bentuk kredit itu menghasilkan banyak hal lain,” jelasnya.
Meski demikian, BCA tetap menyesuaikan suku bunga deposito. “BCA sendiri sebenarnya dari tahun lalu itu sudah menurunkan suku bunga deposito. Namun terakhir kita juga menyesuaikan, bukan naikin sih, ya sebenarnya sih naik. Tapi katanya disesuaikan sedikit ya, kita lakukan adjustment,” ungkap Jahja.
Menurut Jahja, likuiditas yang baik juga tercermin dari suku bunga deposito di pasar. “Kalau kita lihat di pasar memang terjadi kenaikan-kenaikan suku bunga deposito. Ya artinya ini pasar sudah semakin ketat meskipun yang namanya pasar kan player beda-beda,” ujarnya.
BCA juga berperan dalam mendukung pembangunan nasional melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN). “SBN, saya pikir SBN itu adalah jangka menengah panjang sebenarnya. Kesempatan untuk kita pertama, kalau lihat likuiditas kita sangat berlebih, maka kita ada room untuk menempatkan lebih dari setahun,” kata Jahja.
Dengan berbagai strategi tersebut, BCA tetap fokus pada fungsi utamanya sebagai bank untuk memberikan kredit yang sangat profitable. “Karena apa bunga kreditnya, kemudian ada yang tadi saya katakan, tambahan-tambahan bisnis lain yang bisa meningkatkan income perbankan,” jelas Jahja.
Dengan likuiditas yang sangat baik, BCA tidak merasakan ketatnya likuiditas di pasar. “Nah apakah BCA ikut merasakan adanya pengatatan? Ya karena likuiditas kita yang baik ya, kalau kita sebenarnya tidak merasakan,” kata Jahja.
Namun, BCA tetap mempersiapkan strategi untuk menghadapi berbagai kondisi pasar. “Kita bisa tempatkan saat ini ke SRBI. Bersedia ada yang 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan. Tergantung proyeksi kebutuhan dana likuiditas kita. Nah itu kita tempatkan di situ,” tandasnya.
