back to top

Emas Turun Tipis, Investor Tunggu Kejelasan Suku Bunga AS!

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa (27/8/2024) waktu setempat atau Rabu pagi (28/8/2024) WIB. Kendati begitu, harga emas masih berada di dekat level tertinggi sepanjang masa yang diraihnya pekan lalu. Penurunan emas terjadi menjelang laporan inflasi yang dijadwalkan dirilis minggu ini, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip CNBC International, harga emas spot turun sebesar 0,3% menjadi US$2.510,31 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga melemah 0,4%, menutup perdagangan pada US$2.545,60 per ons. Meskipun harga emas menunjukkan tren naik, para investor masih merasa ragu apakah harga akan mencapai level yang lebih tinggi dalam waktu dekat tanpa adanya data ekonomi AS yang mendukung pemangkasan suku bunga lebih besar.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, menjelaskan bahwa harga emas saat ini sudah memperhitungkan adanya pemangkasan suku bunga AS yang dimulai pada bulan September. Namun, Hansen menilai bahwa harga emas mungkin akan sulit mengalami kenaikan lebih lanjut dalam jangka pendek, kecuali ada data ekonomi yang menunjukkan kelemahan signifikan yang mendukung pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin, bukan hanya 25 basis poin seperti yang diperkirakan saat ini.

Hansen memproyeksikan bahwa harga emas akan mengalami konsolidasi dalam beberapa bulan ke depan, dengan risiko penurunan terbatas menuju US$2.400 per ons. Data inflasi PCE, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed, akan dirilis pada hari Jumat dan sangat dinantikan oleh pasar untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Menurut alat CME FedWatch, investor memperkirakan ada peluang 71% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, dan sekitar 29% kemungkinan untuk pemangkasan yang lebih besar sebesar 50 basis poin. Dalam lingkungan suku bunga rendah, daya tarik emas biasanya meningkat karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.

Tahun ini, harga emas telah mencatatkan rekor tertinggi, naik sekitar 22% sejak awal tahun dan mencapai puncaknya di US$2.531,60 per ons pekan lalu. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan kekhawatiran yang berlanjut mengenai konflik di Timur Tengah, terutama setelah serangan rudal besar antara Israel dan Hezbollah pada hari Minggu.

Han Tan, Kepala Analis Pasar di Exinity Group, memperkirakan bahwa emas bisa menembus level US$2.700 per ons pada akhir tahun jika The Fed memangkas suku bunga hingga 100 basis poin sebelum Natal, sesuai dengan ekspektasi pasar saat ini. Tan juga mencatat bahwa bulan Desember dalam lima tahun terakhir selalu mencatatkan kenaikan rata-rata bulanan tertinggi untuk emas. Jika pola musiman ini berlanjut, emas bisa menjadi salah satu pilihan utama bagi investor yang mencari keuntungan besar menjelang akhir tahun.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bisnis Bulion Melesat, Pegadaian dan BSI Kelola Emas 153,05 Ton

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Kegiatan usaha bulion di Indonesia terus...

Perang Timur Tengah Makin Panas, Harga Emas Dunia Langsung Terbang Tinggi

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Perang Iran Berkecamuk, Harga Minyak Dunia Meroket Tembus USD 80 per Barel

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hingga 8%...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru