back to top

Pasar Saham Asia Tertekan, Nikkei Anjlok! Investor Cemas Menunggu Langkah China

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik mengalami penurunan yang signifikan pada penutupan perdagangan hari Rabu sore (16/10/2024) waktu setempat.

Mengutip CNBC International, indeks Nikkei Jepang mencatatkan penurunan tajam sebesar 1,83%, ditutup di level 39.180,3. Sentimen negatif yang berasal dari Wall Street turut menambah ketidakpastian di pasar Asia-Pasifik.

Saat ini, perhatian investor tertuju pada kebijakan baru yang diharapkan bisa mendukung sektor properti di China. Menteri Perumahan China, Ni Hong, dijadwalkan akan memberikan pernyataan penting pada Kamis pagi. Pasar pun menanti keputusan ini dengan penuh harap.

Sebelum konferensi pers tersebut, Indeks Real Estate CSI 300 China sempat melonjak hingga 5,8%. Namun, pada akhirnya, Indeks CSI 300 secara keseluruhan justru turun 0,63% dan ditutup di angka 3.831,59. Sementara itu, Indeks Hang Seng Properti Daratan mencatatkan kenaikan sebesar 3,8%, tetapi Indeks Hang Seng secara keseluruhan bergerak datar.

John Lee, pemimpin eksekutif Hong Kong, menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan perumahan publik dan menyederhanakan proses bagi perusahaan yang ingin melantai di bursa Hong Kong. “Kami ingin menarik lebih banyak perusahaan internasional untuk mencatatkan sahamnya di sini,” ujar Lee.

Selain dari China, pelaku pasar juga memperhatikan data ekonomi dari negara lain. Di Selandia Baru, inflasi tercatat naik 2,2% secara tahunan pada kuartal ketiga. Di Korea Selatan, tingkat pengangguran mengalami sedikit kenaikan menjadi 2,5% dari 2,4% pada bulan sebelumnya.

Pasar saham di negara-negara Asia lainnya juga merasakan dampak penurunan. Di Taiwan, Taiwan Weighted Index anjlok 1,21% menjadi 23.010,98, dengan sektor teknologi menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Australia juga tidak ketinggalan, dengan Indeks S&P/ASX 200 turun 0,41% menjadi 8.284,7. Sementara itu, di Korea Selatan, Kospi melemah 0,88% menjadi 2.610,36, dan Kosdaq turun 1,04% menjadi 765,79.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dihantui Bayang-bayang Stagflasi Akibat Krisis Iran, Wall Street Merah Tiga Pekan Beruntun

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Di Balik Runtuhnya Bursa Saham Eropa: Krisis Minyak dan Skandal Eksposur USD 30 Miliar Bank Raksasa

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Peluang Resesi 2026 Melonjak ke 32%, Bursa Saham Asia Kompak Berguguran

STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup melemah...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru