STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah merilis prospektus terbaru terkait rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I). Emiten penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi ini mengoreksi beberapa informasi penting dalam dokumen tersebut pada Senin (29/12/2025).
Dalam aksi korporasi ini, INET berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 12.800.000.000 (dua belas miliar delapan ratus juta) saham baru. Saham tersebut merupakan saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp10 per saham. Jumlah ini mewakili sekitar 57,14% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan PMHMETD I.
Harga pelaksanaan atau exercise price ditetapkan sebesar Rp250 per saham. Dengan demikian, INET berpotensi meraup dana segar hingga Rp3,2 triliun dari aksi rights issue ini.
Rasio HMETD yang ditetapkan adalah 3:4. Artinya, setiap pemegang 3 (tiga) saham lama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada tanggal 6 Januari 2026 berhak atas 4 (empat) HMETD. Setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru.
Sebagai pemanis, perseroan juga menerbitkan Waran Seri II secara cuma-cuma. Sebanyak-banyaknya 2,304 miliar lembar Waran Seri II akan diberikan sebagai insentif. Rasionya adalah 50:9, di mana setiap 50 saham baru hasil pelaksanaan rights issue melekat 9 Waran Seri II.
Harga pelaksanaan Waran Seri II dipatok sebesar Rp300 per saham. Periode pelaksanaannya dimulai dari 13 Juli 2026 hingga 13 Juli 2028. Jika seluruh waran dilaksanakan, perseroan bisa mendapatkan tambahan dana maksimal sebesar Rp691,2 miliar.
Penggunaan dana hasil rights issue ini mayoritas dialokasikan untuk ekspansi entitas anak. Sekitar Rp2,935 triliun akan digunakan untuk penyetoran modal kepada PT Garuda Prima Internetindo (GPI). Dana tersebut akan dipakai GPI untuk belanja modal pembangunan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berteknologi Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok.
Selain itu, sekitar Rp215,38 miliar akan disuntikkan ke PT Pusat Fiber Indonesia (PFI). Dana ini digunakan untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut Jakarta-Batam-Singapura. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja perseroan.
PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) bertindak sebagai Pembeli Siaga dalam aksi ini. AKUN telah menyatakan kesanggupannya untuk mengambil bagian sisa saham yang tidak dieksekusi oleh pemegang saham lainnya. Komitmen ini tertuang dalam Perjanjian Pembelian Sisa Saham dengan jumlah maksimal 5.652.377.067 saham.
Bagi pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya, kepemilikan mereka akan terdilusi hingga maksimal 57,14%. Jadwal perdagangan HMETD akan berlangsung mulai 8 Januari 2026 hingga 22 Januari 2026. Pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 12 Januari 2026.
