STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia kompak menguat lebih dari 1% pada penutupan perdagangan Senin (5/1/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (6/1/2026) WIB. Kenaikan harga komoditas emas hitam ini terjadi seiring munculnya ketidakpastian baru di Venezuela, negara dengan cadangan minyak besar.
Situasi tersebut dipicu tumbangnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Penggulingan Nicolas Maduro oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu ketegangan politik dan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.
Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent menguat 85 sen atau 1,4% ke US$61,60 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendaki US$1 atau 1,74% dan ditutup di level US$58,32 per barel., di New York Mercantile Exchange.
Presiden Donald Trump menegaskan investasi Amerika Serikat pada sektor minyak Venezuela menjadi tujuan utama operasi ini. Langkah ini dilakukan usai Maduro tersingkir dari kursi kekuasaan. Trump menyampaikan rencana besar tersebut dalam konferensi pers di kediamannya, Mar-a-Lago, Florida.
“Kami akan meminta perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar — yang terbesar di mana pun di dunia — masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang sangat rusak, infrastruktur minyak,” ujar Trump.
Trump juga menyebut embargo minyak Amerika Serikat terhadap Venezuela masih tetap berlaku hingga saat ini. Kebijakan tersebut membuat pasokan minyak dari negara Amerika Selatan itu masih diliputi ketidakpastian.
Venezuela dikenal sebagai salah satu negara pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Negara ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Total cadangannya mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total cadangan minyak global, mengacu pada data U.S. Energy Information Administration.
Produksi minyak Venezuela sempat berada di puncaknya pada akhir 1990-an. Saat itu, produksi mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari. Namun kondisi tersebut berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Firma konsultan energi Kpler mencatat produksi minyak Venezuela terus mengalami penurunan tajam. Saat ini, produksi minyak negara tersebut hanya berada di kisaran 800.000 barel per hari. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dari Venezuela.
Hingga kini Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar Amerika Serikat yang beroperasi di sana. Kpler mencatat Chevron mengekspor sekitar 140.000 barel per hari pada akhir kuartal keempat 2025.
Kepala Riset Minyak Goldman Sachs Daan Struyven menilai dampak penggulingan Maduro terhadap harga masih belum pasti dalam jangka pendek. Produksi bisa naik tipis jika pemerintahan yang didukung Amerika Serikat terbentuk. Syarat lainnya adalah administrasi Trump harus mencabut sanksi terhadap Venezuela.
Struyven juga mengingatkan kemungkinan gangguan pasokan dalam jangka pendek akibat penggulingan tersebut. Secara jangka panjang, investasi Amerika Serikat yang meningkatkan produksi akan menekan harga minyak. Pemulihan produksi kemungkinan akan berjalan bertahap dan hanya sebagian.
Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets Helima Croft menyebut perbaikan produksi butuh dana besar. Biayanya diperkirakan mencapai US$ 10 miliar setiap tahun. Lingkungan keamanan yang stabil sangat penting guna mengembalikan produksi ke level historis.
Kelonggaran sanksi secara penuh dapat mendatangkan kembali ratusan ribu barel produksi dalam 12 bulan. Hal ini bisa terjadi jika transisi kekuasaan berjalan tertib. Namun, risiko besar tetap membayangi jika terjadi kekacauan.
“Namun, semua taruhan dibatalkan dalam skenario perubahan kekuasaan yang kacau seperti yang terjadi di Libya atau Irak,” kata Croft.
