back to top

Strategi 2026 TPIA: Tambah Armada, Perkuat Infrastruktur, Kejar Kapasitas 30 Juta dan Bidik Pasar ASEAN

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bersiap menghadapi tantangan industri petrokimia pada 2026 dengan strategi ekspansi dan perlindungan pasar. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini tengah memacu pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Proyek strategis tersebut menelan nilai investasi hingga Rp15 triliun.

Langkah ini diambil setelah perusahaan mencatatkan kinerja moncer pada 2025. Hingga kuartal III-2025, pendapatan TPIA meroket 314,3% secara tahunan menjadi USD 5,10 miliar. Perolehan laba bersih juga sangat fantastis, berada di kisaran USD 1,29 miliar hingga USD 1,65 miliar atau setara Rp21 triliun sampai Rp27 triliun.

Lonjakan laba tersebut didorong adanya pencatatan negative goodwill sekitar USD 1,9 miliar. Hal ini terjadi setelah perusahaan patungan Aster Chemicals and Energy mengakuisisi aset kilang Shell Energy and Chemicals Park di Singapura. Sinergi antara TPIA dan Glencore tersebut berhasil membalikkan posisi perusahaan dari rugi menjadi untung besar.

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat TPIA, Suryandi, mengungkapkan fokus utama tahun ini. Perusahaan mengejar penyelesaian konstruksi pabrik CA-EDC. Alokasi belanja modal (capex) untuk tahun 2026 dipastikan masih cukup besar untuk menuntaskan proyek tersebut.

Meski laba tahun lalu tinggi, Suryandi mengakui margin bisnis inti petrokimia masih sangat menantang. Dinamika geopolitik dan pasokan berlebih (oversupply) global menjadi pemicu utama. Kondisi ekonomi China yang melambat turut menekan permintaan pasar internasional.

Guna mengatasi tipisnya margin petrokimia, TPIA memperkuat lini bisnis infrastruktur. Perusahaan menambah jumlah armada kapal serta meningkatkan kapasitas listrik. Sektor infrastruktur diharapkan memberikan kontribusi hasil yang lebih stabil dan pasti bagi keuangan perseroan.

Kehandalan operasional pabrik menjadi harga mati bagi manajemen. Pabrik di Cilegon maupun Singapura dijaga ketat agar tidak mengalami penghentian operasional secara mendadak. Satu hari saja pabrik berhenti beroperasi, potensi kerugian bisa mencapai USD 3 juta.

TPIA juga baru saja menyelesaikan pemeliharaan menyeluruh atau turnaround maintenance pada Februari 2026 ini. Langkah tersebut bertujuan memastikan mesin pabrik tetap prima hingga empat tahun ke depan. Operasional yang lancar akan menekan angka impor produk petrokimia di dalam negeri.

Mengenai target pasar, pabrik CA-EDC akan membagi alokasi produknya. Sebanyak 400.000 ton produk chlor alkali ditujukan untuk pasar domestik. Sementara itu, 500.000 ton produk ethylene dichloride (EDC) akan menyasar pasar ekspor seperti Thailand dan Malaysia.

“Satu hari pabrik Cilegon saja shutdown, itu bisa sampai USD 3 juta loss,” ujar Suryandi.

Di sisi lain, Direktur Legal & Hubungan Eksternal TPIA, Edi Riva’i, menyoroti ancaman produk impor murah. Produk dari China masuk ke Indonesia dengan harga miring melalui praktik perdagangan tidak adil atau dumping. Kondisi ini sangat merugikan industri dalam negeri.

TPIA melalui asosiasi telah mengajukan langkah perlindungan berupa anti-dumping dan safeguard. Saat ini, proses penyelidikan anti-dumping sudah selesai. Perusahaan kini menunggu penandatanganan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk pemberlakuan tarif tersebut.

Perlindungan pasar juga menyasar produk polyetylene. Kapasitas produksi lokal saat ini sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, banjir produk impor tetap mengancam pertumbuhan industri domestik.

Saat ini kapasitas produksi total TPIA mencapai 17,6 juta ton per akhir 2025. Perusahaan menargetkan kapasitas tersebut terus naik hingga 30 juta ton pada 2027. Tingkat utilisasi pabrik diharapkan kembali stabil di level 90% hingga 95% setelah masa pemeliharaan selesai.

“Anti-dumping dan safeguard ini untuk melindungi pasar kita supaya tidak dikacaukan dengan adanya unfair trade,” tegas Edi Riva’i.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Bersih BTN Januari 2026 Melejit 578%, Tembus Rp230 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Laba Wahana Ottomitra (WOMF) Anjlok 45,77% pada 2025, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) membukukan laba...

Tumbuh 32,22%, Laba Bersih Astra Graphia (ASGR) Rp270,61 Miliar pada 2025

STOCKWATCH (JAKARTA) - PT Astra Graphia Tbk (ASGR)  berhasil mencatatkan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru