STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar saham Indonesia diprediksi memasuki fase pemulihan pada 2026. Pertumbuhan laba emiten atau earning growth diperkirakan kembali ke jalur positif dengan kenaikan dua digit.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menyampaikan, 2026 menjadi tahun recovery setelah tekanan pada 2025.
“2026 merupakan tahun pemulihan pasar saham Indonesia. Earning growth recovery akan mencapai double digits di tengah kebijakan fiskal yang ekspansif dan kenaikan harga komoditas,” ujar Oki di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Mandiri Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan laba per saham atau EPS dari lebih 80 emiten yang mereka cover mencapai 15% pada 2026. Angka ini jauh membaik dibandingkan 2025 yang terkontraksi sekitar -12%.
Dari sisi suku bunga, normalisasi biaya modal turut memberi angin segar. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga sebesar 150 bps sejak 2024.
Penurunan ini membuat biaya ekuitas turun lebih cepat dibandingkan return on equity atau ROE. Penerbitan saham dinilai menjadi lebih menarik.
Imbal hasil acuan bebas risiko juga turun. Surat Berharga Negara tenor 1 tahun bergerak dari kisaran 6%-7% pada awal 2025 menjadi sekitar 5% pada awal 2026.
Kondisi eksternal ikut menopang. Likuiditas global dinilai tetap melimpah seiring kebijakan fiskal ekspansif di berbagai negara. Harga komoditas juga bertahan di level menguntungkan. Tekanan dolar AS cenderung melemah.
Di tengah sentimen tersebut, Mandiri Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menyentuh 9.350 dalam skenario bullish. Sementara pada kondisi bearish, IHSG diperkirakan berada di level 7.670.
Oki juga menyoroti delapan rencana aksi strategis dari Otoritas Jasa Keuangan untuk mempercepat reformasi pasar modal.
Langkah itu meliputi peningkatan batas minimum free float menjadi 15% dari 7%, penguatan transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO), hingga peningkatan granularitas data kepemilikan saham oleh KSEI.
Selain itu, terdapat rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia guna mengurangi potensi konflik kepentingan.
OJK juga akan memperkuat penegakan hukum terhadap manipulasi transaksi dan informasi menyesatkan. Sertifikasi dan pendidikan bagi Direksi serta Komisaris emiten akan diperketat.
Pendalaman pasar terintegrasi dan kolaborasi dengan SRO serta Pemerintah ikut menjadi fokus. “Kami melihat kombinasi reformasi struktural dan dukungan makro akan memperkuat fondasi pasar modal Indonesia,” kata Oki.
Dari sisi sektoral, Mandiri Sekuritas menilai sejumlah sektor memiliki prospek pertumbuhan menarik pada 2026. Sektor tersebut antara lain komoditas, telekomunikasi, internet dan digital, konsumer, ritel, transportasi, serta bahan bangunan.
