STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hingga 8% pada akhir perdagangan Kamis (5/3/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (6/3/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 4,01 USD atau 4,93% menjadi 85,41 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melompat 6,35 USD atau 8,51%. Minyak WTI berakhir pada posisi 81,01 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan tajam ini membawa minyak WTI mencetak keuntungan harian terbesar sejak Mei 2020. Sepanjang minggu ini, harga minyak AS telah melonjak sekitar 21%.
Eskalasi perang Iran menjadi pemicu utama lonjakan harga si emas hitam. Konflik ini sangat mengganggu rantai pasokan bahan bakar global. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kini terhenti total akibat maraknya serangan terhadap kapal tangki minyak.
Dampak lonjakan harga minyak mentah langsung terasa pada tingkat konsumen. Harga bensin eceran di AS naik hampir 27 sen sejak minggu lalu. Rata-rata harga bensin di sana kini mencapai USD 3,25 per galon.
Kelompok pengendara mobil AAA mencatat kenaikan drastis ini. Lonjakan harga bensin serupa terakhir kali terjadi pada Maret 2022 lalu menyusul invasi militer Rusia ke Ukraina.
Media pemerintah Iran menyebut militer negaranya berhasil menyerang sebuah kapal tangki minyak menggunakan rudal. Garda Revolusi Iran juga telah memerintahkan penutupan Selat Hormuz pada awal pekan ini. Mereka mengancam akan menyerang semua armada pengangkut minyak di jalur tersebut.
Angkatan Laut Inggris turut melaporkan ledakan besar pada sebuah kapal tangki minyak pada hari Kamis. Kapal ini sedang berlabuh di perairan teritorial Irak.
Kapten kapal sempat melihat sebuah kapal kecil melarikan diri dari lokasi kejadian sesaat setelah ledakan. Beruntung, seluruh kru kapal dilaporkan selamat dan tidak ada insiden kebakaran.
Lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz lumpuh sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai. Para pemilik kapal sangat khawatir dengan situasi keamanan di wilayah perairan tersebut. Padahal, sekitar 20% dari total konsumsi minyak global harus diekspor melalui selat ini.
Presiden AS Donald Trump merespons krisis ini pada hari Selasa. Ia berjanji akan memberikan asuransi risiko politik bagi kapal-kapal di Selat Hormuz. Angkatan Laut AS juga siap mengawal kapal-kapal melintasi Teluk Persia jika situasi mendesak.
Pemerintah AS hingga kini belum memiliki kepastian waktu terkait kembalinya keamanan jalur pelayaran komersial di selat tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan keterangan kepada wartawan pada hari Rabu menyikapi situasi keamanan ini.
“Saya tidak ingin berkomitmen pada suatu garis waktu, tetapi tentu saja itu adalah sesuatu yang sedang dihitung secara aktif oleh Departemen Perang dan Departemen Energi,” tegas Leavitt.
