spot_img

Kredit Perbankan Tembus Rp8.755 Triliun, Pinjaman Paylater Melonjak 37%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif hingga April 2026. Pertumbuhan kredit berlanjut dengan profil risiko yang masih terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.755 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 9,49% yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,48%. Selanjutnya Kredit Konsumsi tumbuh 6,13% dan Kredit Modal Kerja naik 6,04%. Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 15,51% yoy.

Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan perbaikan. Hingga April 2026, kredit UMKM tumbuh positif 0,16% yoy, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 0,12% yoy.

Ditinjau berdasarkan kepemilikan bank, kredit bank milik negara atau BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,35% yoy. Pada segmen buy now pay later (BNPL), OJK mencatat porsi produk kredit BNPL perbankan sebesar 0,34% dari total kredit.

Per April 2026, baki debet kredit BNPL yang dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) tumbuh 37,29% yoy menjadi Rp29,3 triliun. Pada Maret 2026, pertumbuhan kredit BNPL tercatat sebesar 24,20% yoy.

Jumlah rekening BNPL juga meningkat menjadi 31,76 juta rekening, dibandingkan 30,81 juta rekening pada Maret 2026.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39% yoy menjadi Rp10.077 triliun. Meski tetap tumbuh, angkanya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 yang mencapai 13,55% yoy.

Pertumbuhan giro tercatat sebesar 16,99% yoy. Sementara deposito tumbuh 8,65% yoy dan tabungan meningkat 9,00% yoy.

Likuiditas industri perbankan juga tetap memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 111,13%, sedangkan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mencapai 25,39%.

Angka tersebut masih jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50% dan 10%. Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level 192,37%.

Kualitas kredit perbankan juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,17%, sedangkan NPL net berada di level 0,84%.

Sementara itu, Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,82%, membaik dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 8,94%. Dari sisi profitabilitas, tingkat pengembalian aset atau return on assets (ROA) perbankan berada di level 2,46%.

Dian mengatakan ketahanan industri perbankan juga didukung oleh modal yang kuat.

“Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 23,97%, menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai,” ujar Dian, Jumat (5/6/2026).

Pada Maret 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 25,09%.

Menurut Dian, capaian tersebut menunjukkan kondisi industri perbankan nasional masih tetap kuat, baik dari sisi intermediasi, likuiditas, kualitas aset, maupun permodalan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Rugi Pelayaran Tamarin Samudra (TAMU) Susut 78%, pada 2025, Kinerja Operasional Berbalik Positif

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) berhasil...

OJK Blokir 33.836 Rekening Judi Online, Satgas Pinjol Ilegal Siap Meluncur Lewat UU P2SK Baru

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak cepat memberantas...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru