back to top

Efek Perang AS-Iran: Suku Bunga Eropa Berpotensi Naik, Investor Ramai-Ramai Lepas Saham

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (20/3/2026) waktu setempat. Pergerakan ini dipicu kenaikan harga minyak mentah dan sikap hati-hati bank sentral terkait potensi kenaikan suku bunga. Investor mencermati dampak perang Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap tekanan inflasi global.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 1,7% ke posisi 573,28. Seluruh bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis turun 1,82% ke level 7.665,62. FTSE MIB Italia merosot 1,97% ke posisi 42.840,90.

Indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,44% ke level 9.918,33. DAX Jerman terkoreksi paling dalam sebesar 2,01% ke posisi 22.380,19. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol menurun 1,14% ke level 16.714,00.

Pasar sempat menguat sesaat pada Jumat pagi sebelum akhirnya jatuh kembali. Eskalasi konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran guncangan energi akan membebani ekonomi dunia. Harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi 109,81 USD per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga melonjak 3,3% ke posisi 99,30 USD per barel.

Bank sentral di seluruh Eropa memilih menahan suku bunga acuan pada pekan ini. Meski demikian, Bank Sentral Eropa (ECB) memberikan peringatan terkait dampak konflik yang sedang berlangsung. Pejabat ECB menyebut perang tersebut menciptakan “risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi.”

Kondisi ini memicu spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan ECB bulan April mendatang. Peluang kenaikan tersebut kini berada di atas 50%. Di Inggris, para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) mencapai 100% pada Juni nanti.

Komite Kebijakan Moneter BoE sepakat menahan suku bunga pada pertemuan hari Kamis. Namun, para pembuat kebijakan menyatakan mereka “siap bertindak” untuk mengimbangi efek perang. Sinyal ini langsung meningkatkan taruhan pasar terhadap kenaikan bunga di sisa tahun ini.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Inggris atau gilts tenor 10 tahun melonjak ke level 4,995%. Ini merupakan level tertinggi sejak krisis keuangan global tahun 2008. Lonjakan terjadi setelah data menunjukkan pinjaman sektor publik Inggris membengkak menjadi 14,3 miliar poundsterling atau sekitar 19,1 miliar USD pada Februari.

Di sisi korporasi, saham Smiths Group anjlok 9,9% karena realisasi pertumbuhan pendapatan meleset dari perkiraan. CEO Smiths Group mengumumkan rencana pengembalian dana 1,5 miliar poundsterling kepada pemegang saham melalui buyback hingga 2027. Raksasa barang konsumsi Unilever juga mengonfirmasi sedang bernegosiasi untuk menjual bisnis makanannya kepada McCormick & Company asal AS.

Kabar kurang sedap datang dari jaringan pub J D Wetherspoon. Perusahaan memperingatkan potensi laba tahun ini berada di bawah estimasi pasar. Hal ini disebabkan kenaikan biaya tenaga kerja, energi, serta tekanan pada keuangan konsumen. Sementara itu, pembicaraan penjualan unit baja Thyssenkrupp kepada Jindal Steel dikabarkan tidak mengalami kemajuan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Konflik Iran-Israel Memanas dan Harga Minyak Melejit, Wall Street Kompak Tumbang

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Fasilitas LNG Qatar Lumpuh Diserang Iran, Bursa Saham Asia Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru