STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (7/5/2026) waktu setempat.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 1,10% ke posisi 616,42.
Hampir seluruh bursa utama di kawasan tersebut tersungkur ke zona merah. Indeks CAC 40 Perancis merosot 1,17% ke level 8.202,08. FTSE MIB Italia turun 0,82% ke posisi 49.291,01.
Indeks FTSE 100 Inggris kehilangan 1,55% ke level 10.276,95. DAX Jerman melemah 1,02% ke posisi 24.663,61. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol terkoreksi tipis 0,24% ke level 18.060,80.
Pergerakan negatif ini terjadi di tengah penantian para investor terhadap kepastian kondisi geopolitik. Washington dan Teheran kabarnya semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, pergerakan pasar di Asia dan Eropa tertahan usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menepis kabar tersebut.
Trump menyatakan kesepakatan belum mencapai tahap final. Ia juga mengancam akan kembali melancarkan serangan militer jika Iran menolak proposal AS.
“Jika mereka tidak setuju, pengeboman dimulai, dan sayangnya, itu akan berada pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya,” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Di sisi ekonomi, kebijakan moneter Bank Sentral Norwegia (Norges Bank) turut membayangi pasar. Lembaga ini menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada hari Rabu. Norges Bank menjadi bank sentral besar pertama yang mengambil langkah ini. Konflik di Iran rupanya kembali memicu ketakutan akan inflasi global.
Gubernur Norges Ida Wolden Bache memberikan penjelasan terkait keputusan ini.
“Inflasi terlalu tinggi dan telah berjalan di atas target selama beberapa tahun,” ujar Bache dalam sebuah pernyataan resminya.
Bache juga menyoroti kondisi ekonomi makro secara keseluruhan yang masih rentan.
“Prospek kebijakan moneter tampaknya tidak berubah secara material sejak Maret, tetapi perang di Timur Tengah masih menyebabkan ketidakpastian yang substansial mengenai prospek ekonomi,” tambahnya.
Di sisi korporasi, perusahaan energi raksasa asal Inggris, Shell, melaporkan kinerja yang memuaskan. Laba kuartal pertama Shell melampaui ekspektasi. Harga energi melesat tajam imbas dari perang Iran.
Shell mencatatkan pendapatan disesuaikan sebesar USD 6,92 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut mengalahkan perkiraan konsensus analis LSEG sebesar USD 6,1 miliar. Meski membukukan untung besar, saham Shell justru ditutup turun 2,9%. Penurunan saham terjadi akibat keputusan perusahaan untuk memangkas ukuran pembelian kembali sahamnya (share buyback) yang akan datang.
Sementara itu, raksasa pelayaran Maersk melaporkan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dasar sebesar USD 1,75 miliar. Pencapaian kuartal pertama ini anjlok 35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
CEO Maersk Vincent Clerc memberikan pandangannya terkait imbas peperangan terhadap rantai pasok dan perdagangan global.
“Sebuah peringatan baru,” sebut Clerc dalam wawancara di program “Squawk Box Europe” CNBC.
Saham perusahaan asal Denmark ini kerap menjadi barometer perdagangan global. Merespons kinerja keuangan tersebut, saham Maersk ditutup anjlok 9,9% pada perdagangan Kamis.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh eskalasi di area konflik lainnya. Israel dilaporkan menyerang Beirut di Lebanon pada Rabu malam. Serangan ini merupakan yang pertama kalinya sejak gencatan senjata dengan Hizbullah disepakati pada 16 April lalu.
Di Inggris, jutaan warga berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara untuk pemilihan lokal. Ajang ini menjadi tolak ukur opini publik terbesar sejak pemilihan umum pada Juli 2024. Partai Buruh pimpinan Keir Starmer saat ini memang menguasai mayoritas. Namun, partai tersebut diprediksi bakal menelan banyak kekalahan di berbagai wilayah.
