STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis sore (7/5/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (8/5/2026) WIB. Indeks S&P 500 turun setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru di awal sesi. Investor kini mengamati pergerakan harga minyak dan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 313,62 poin atau 0,63% ke level 49.596,97. Indeks S&P 500 (SPX) juga melemah 0,38% dan berakhir di posisi 7.337,11. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, turun 0,13% menjadi 25.806,20.
Pelemahan S&P 500 dipicu penurunan saham Amazon dan emiten semikonduktor seperti Broadcom serta Micron Technology. Nasdaq sebenarnya sempat mencatatkan rekor intraday baru sebelum akhirnya berbalik arah. Aksi jual terjadi saat pelaku pasar mencermati fluktuasi harga minyak mentah.
Harga minyak dunia merangkak naik dari level terendah harian setelah sempat diperdagangkan di bawah USD 100. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir turun 0,28% ke level USD 94,81 per barel. Sementara minyak Brent turun 1,19% ke posisi USD 100,06 per barel.
Sentimen pasar dipengaruhi laporan mengenai kemungkinan kesepakatan damai AS dan Iran. Gedung Putih kabarnya tengah menyiapkan nota kesepahaman 14 poin untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, pihak Iran mengaku masih mempelajari proposal tersebut.
Ketegangan tetap membayangi setelah pejabat senior Iran memberikan pernyataan tegas. Iran tidak akan membiarkan AS membuka kembali Selat Hormuz melalui rencana yang tidak realistis. Pihak Iran juga menuntut ganti rugi atas kerusakan yang dialami negara mereka.
Di luar isu geopolitik, kinerja emiten yang kuat tetap menjadi penopang pasar. Permintaan terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) masih sangat tinggi. Hal ini memberikan dorongan bagi sejumlah saham teknologi untuk bertahan di zona hijau.
Ross Mayfield, Strategis Investasi di Baird, memberikan analisanya terkait kondisi pasar saat ini. Ia melihat perubahan sentimen investor berlangsung sangat cepat.
“Kami berpindah dengan sangat cepat dari ‘semua orang bersikap bearish’ menjadi ‘wah, semua orang kembali bullish’,” ujar Mayfield dalam wawancara dengan CNBC.
Mayfield menilai pasar mungkin sudah jenuh beli saat memasuki periode musiman yang lebih lemah. Namun ia menganggap hal tersebut hanya gangguan kecil.
“Pasar mungkin sudah jenuh beli saat memasuki periode musiman yang lebih lemah, namun itu hanyalah gangguan kecil dan bukan hambatan yang sebenarnya. Anda berada dalam skenario kenaikan tajam di sini, kecuali ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba,” tambah Mayfield.
Di sisi lain, beberapa saham individu mencatatkan kenaikan signifikan. Saham Fortinet melonjak 20% setelah perusahaan menaikkan panduan kinerja tahunan mereka. Saham Peloton juga melesat hampir 9% karena pendapatan kuartal ketiga melampaui prediksi pasar.
