back to top

Konflik Iran-Israel Memanas dan Harga Minyak Melejit, Wall Street Kompak Tumbang

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat sore (20/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (21/3/2026) WIB. Aksi jual meluas akibat ketegangan konflik antara AS-Israel dengan Iran yang belum mereda. Kenaikan harga minyak dunia turut menambah tekanan bagi pasar saham.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 443,96 poin atau 0,96% ke level 45.577,47. Indeks S&P 500 (SPX) juga jatuh 1,51% dan berakhir di posisi 6.506,48. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, anjlok 2,01% menjadi 21.647,61.

Pelemahan ini terjadi setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan balasan semalam. Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas energi di wilayah Teluk Persia. Ketegangan meningkat seiring laporan pengiriman ribuan personel Marinir tambahan oleh Pentagon ke Timur Tengah.

Tekanan jual semakin kuat pada sesi sore. Kondisi ini dipicu laporan Irak menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada seluruh ladang minyak yang dikelola perusahaan asing. Kabar tersebut membuat harga minyak Brent menembus 113 USD dan WTI diperdagangkan di atas 98 USD per barel.

Ross Mayfield, pakar strategi investasi dari Baird, memberikan analisanya terkait situasi ini. Ia menilai pasar sedang memantau perkembangan kemungkinan keterlibatan pasukan darat di wilayah tersebut.

“Jika ini adalah eskalasi yang melibatkan pasukan di darat, maka kita mungkin akan menghadapi setidaknya beberapa minggu lagi pasar seperti ini dengan harga minyak yang lebih tinggi, harga gas yang tinggi; Anda terpaku pada setiap tajuk berita tentang infrastruktur energi di wilayah tersebut,” ujar Ross Mayfield kepada CNBC.

Ross Mayfield menambahkan kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya merespons dampak dari konflik tersebut. “Sejujurnya, pasar ekuitas belum mengalami aksi jual dengan cara yang mencerminkan peristiwa semacam ini, sehingga mungkin masih ada beberapa penurunan di depan,” tambahnya.

Kekhawatiran inflasi yang kembali memanas turut menekan pasar. Investor mulai meragukan peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian ini mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Treasury AS.

Tiga indeks utama Wall Street kini mencatatkan penurunan selama empat minggu berturut-turut. Indeks Russell 2000 yang berisi saham berkapitalisasi kecil bahkan turun lebih dari 2% dan masuk ke zona koreksi. Dow Jones dan Nasdaq juga sempat menyentuh level koreksi sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas ambang batas 10%.

Art Hogan dari B. Riley menyatakan koreksi pasar merupakan hal lumrah di tengah tingginya ketidakpastian global. Ia menilai indeks S&P 500 yang lebih beragam mungkin menjadi yang terakhir terdampak secara signifikan.

“Tidak jarang dalam lingkungan tempat kita berada sekarang, dengan besarnya ketidakpastian yang kita miliki, terjadi koreksi 10% pada indeks apa pun,” kata Art Hogan.

Aksi jual terjadi secara merata di berbagai sektor saham. Raksasa teknologi seperti Nvidia dan Tesla masing-masing kehilangan 3%. Sektor utilitas yang biasanya stabil juga ikut terpukul akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Efek Perang AS-Iran: Suku Bunga Eropa Berpotensi Naik, Investor Ramai-Ramai Lepas Saham

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Fasilitas LNG Qatar Lumpuh Diserang Iran, Bursa Saham Asia Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru