STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat pada penutupan perdagangan Selasa (24/3/2026). Namun, indeks-indeks utama memangkas sebagian kenaikan mereka di akhir sesi. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan kembali harga minyak mentah. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah kembali menghantui para investor.
Mengutip CNBC International, penguatan bursa Asia awalnya mengekor reli di Wall Street semalam. Namun, kenaikan mulai terbatas saat harga minyak dunia kembali memanas. Hal ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan perang Iran.
Indeks Hang Seng di Hong Kong memimpin penguatan dengan kenaikan 2,79% ke level 25.063,71. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,43% dan berakhir di posisi 52.252,28. Indeks Topix yang lebih luas juga bertambah 2,1% menjadi 3.559,67.
Bursa Korea Selatan mencatatkan kinerja positif. Indeks Kospi melonjak 2,7% ke posisi 5.553,92. Kospi sempat melesat di atas 3% sebelum akhirnya sedikit melandai. Sementara itu, indeks Kosdaq yang didominasi saham kecil naik 2,24% menjadi 1.121,44.
Kenaikan bursa Jepang terjadi di tengah melandainya data inflasi domestik. Tingkat inflasi utama Jepang turun selama empat bulan berturut-turut pada Februari. Ekonomi negara tersebut mendingin akibat stabilnya harga pangan dan subsidi bahan bakar.
Indeks harga konsumen (IHK) Jepang jatuh ke angka 1,3% pada bulan lalu. Posisi ini merupakan yang terendah sejak Maret 2022. Angka tersebut berada di bawah target 2% bank sentral Jepang dan turun dari 1,5% pada Januari.
Pasar saham China juga menghijau. Indeks CSI 300 naik 1,28% ke level 4.474,72. Indeks Shanghai melonjak 1,78% ke posisi 3.881,28. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik tipis 0,16% dan berakhir di level 8.379,4.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei melonjak hampir 3% ke level 102,91 USD per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melompat 3,7% ke posisi 91,4 USD per barel. Kenaikan ini terjadi setelah aksi jual besar-besaran pada Senin lalu.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat meredakan ketegangan pasar pada Senin. Ia menginstruksikan militer AS menunda rencana serangan ke fasilitas energi Iran selama lima hari. Langkah ini diambil usai adanya diskusi dengan pejabat Iran.
Trump mengklaim adanya kemajuan dalam komunikasi tersebut melalui unggahan di Truth Social. Namun, media pemerintah Iran membantah pernyataan Trump. Mereka menyebut tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Washington dan Teheran.
José Torres, Ekonom Senior di Interactive Brokers, memberikan analisanya terkait situasi ini. Ia menilai risiko perang yang berkepanjangan masih menjadi pikiran utama pasar.
“Terlepas dari kegembiraan di Wall Street… minyak berada jauh dari level terendahnya setelah Teheran membantah melakukan negosiasi akhir pekan dengan Washington,” ujar Torres.
Donald Trump dalam unggahannya memberikan rincian mengenai proses negosiasi tersebut. Ia menyebut pembicaraan tersebut bertujuan untuk mengakhiri permusuhan di kawasan tersebut.
“SAYA SENANG MELAPORKAN AMERIKA SERIKAT, DAN NEGARA IRAN, SELAMA DUA HARI TERAKHIR, TELAH MELAKUKAN PERCAKAPAN YANG SANGAT BAIK DAN PRODUKTIF MENGENAI PENYELESAIAN LENGKAP DAN TOTAL DARI PERMUSUHAN KAMI DI TIMUR TENGAH,” tulis Trump.
