STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia bergerak stabil setelah mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Selasa (24/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (25/3/2026) WIB. Logam mulia ini sempat bangkit dari posisi terendah sesi sebelumnya. Namun, harga emas tetap tertahan di zona pasar bearish (tren menurun).
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun tipis 0,1% ke posisi USD 4.400 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 0,3% menjadi USD 4.395,70 per ons troi.
Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang meredam daya tarik emas. Indeks dolar AS terpantau naik 0,5% pada perdagangan Selasa. Penguatan mata uang “greenback” membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Harga emas spot kini telah merosot 21% sejak mencetak rekor tertinggi USD 5.594,82 pada akhir Januari lalu. Pekan lalu menjadi periode terburuk bagi emas sejak September 2011 dengan kerugian hampir 10%. Di sisi lain, indeks dolar telah menguat sekitar 3% sejak dimulainya perang Iran.
Para pengamat pasar menilai penurunan ini dipicu oleh faktor makroekonomi dan posisi investor. Rajat Bhattacharya, Senior Investment Strategist di Standard Chartered, memberikan analisanya melalui email kepada CNBC.
“Meskipun emas awalnya naik karena permintaan safe haven pada awal konflik [Iran], harga baru-baru ini ditarik kembali,” ujar Rajat Bhattacharya.
Bhattacharya menjelaskan fenomena ini sering terjadi saat pasar mengalami tekanan tinggi. Investor cenderung mengamankan likuiditas di tengah ketidakpastian global.
“Kami melihat pola ini sering berulang selama periode tekanan pasar yang meningkat karena investor mengumpulkan uang tunai untuk membayar margin call atau sekadar mengambil keuntungan jika memungkinkan,” tambahnya.
Selain faktor dolar, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau Treasury juga menekan emas. Yield Treasury 10-tahun naik sekitar 5 basis poin menjadi 4,384% pada Selasa. Inflasi yang tetap tinggi mengurangi peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) secara agresif.
Zavier Wong, Market Analyst di eToro, menilai penurunan ini merupakan koreksi alami. Sebelumnya, harga emas sempat melonjak lebih dari 64% pada tahun lalu akibat ketidakpastian geopolitik.
“Reli emas baru-baru ini ke rekor tertinggi didorong bukan oleh inflasi melainkan oleh hilangnya kepercayaan secara lebih luas: defisit fiskal, fragmentasi geopolitik, dan bank sentral yang diam-diam melakukan diversifikasi dari cadangan dolar,” kata Zavier Wong.
Wong menambahkan aksi ambil untung oleh investor institusional tidak bisa dihindari. Hal ini lazim terjadi setelah sebuah aset mencatatkan performa yang sangat kuat dalam jangka panjang.
“Setelah kenaikan seperti itu, beberapa pelepasan posisi tidak dapat dihindari. Emas telah menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik selama setahun terakhir, dan ketika pasar bergejolak, dana lindung nilai dan investor institusional cenderung mengurangi eksposur,” jelas Wong.
Meski saat ini investor cenderung pesimis, para pelaku industri tetap optimis pada prospek jangka panjang. Risiko geopolitik dan permintaan bank sentral masih menjadi penyangga utama harga emas ke depan. Aset ini diprediksi tetap memiliki fundamental kuat dalam jangka panjang.
