STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan sebesar 18,49% sepanjang kuartal I 2026. Mengutip data RTI Business sejak akhir tahun lalu, Selasa (30/12/2025) hingga Selasa (31/3/2026), IHSG bergerak melemah dari 8.646,938 menjadi 7.048,222, turun 1.598,716 poin atau ambruk 18,49% secara year to date (YtD).
Pelemahan ini antara lain dipicu oleh krisis geopolitik Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari sebulan sejak tanggal 28 Februari 2026. Perang antara AS dan Israel dengan Iran belum juga menjukkan tanda-tanda akan berakhir. Hal ini mendorong investor terus melakukan aksi jual saham.
Selama tiga bulan (triwulan I) tahun 2026, perdagangan saham dikejutkan oleh faktor (berita) mengenai pembekuan sementara oleh MSCI untuk indeks Indonesia, dan perang AS-Israel versus Iran yang mengerek harga minyak naik lebih tinggi akibat penutupan Selat Hormuz.
Hal ini dikhawatirkan akan meningkatnya risiko fiskal Indonesia seiring asumsi APBN terkait harga minyak dan kurs yang terlampaui. Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, pelaku pasar melakukan aksi jual saham di Bursa.
Di hari terakhir perdagangan saham bulan Maret 2026, (Selasa, 31/3/2026), IHSG berakhir melemah 43,448 poin atau turun 0,61% ke 7.048,22, dari penutupan Senin (30/3/2026) di level 7.091,670. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG sempat mencapai level tertinggi harian di 7.155,548 dan terendah di level 7.031,105.
Turunnya IHSG hari ini dipicu oleh harga saham 406 emiten yang berakhir melemah. Sementara sebanyak 262 emiten ditutup naik dan 151 saham emiten tidak mengalami perubahan harga pada Selasa (31/3/2026).
Total volume perdagangan mencapai 27,266 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,973 triliun dan frekuensi 1.748.020 kali. Angka ini naik tipis dibandingkan nilai transaksi sebesar Rp14,939 triliun, Senin (30/3/2026). Adapun kapitalisasi pasar hari ini tercatat sebesar Rp12.447.834 triliun, turun dari Rp12.536.770 triliun, Senin (30/3/2026).
Saham-saham unggulan (bluechips) yang berakhir melemah di antaranya adalah UNVR turun 0,82% jadi Rp1.820 per saham. ASII tertekan 1,57% jadi Rp6.250, BBRI turun 0,89% jadi Rp3.330, BUMI turun 4,42% jadi Rp216, BBNI turun 2,34% jadi Rp3.760, DEWA turun 4,39% jadi Rp436, CUAN turun 6,19% jadi Rp1.060, dan BRMS turun 4,58% ke harga Rp730 per saham.
Sedangkan harga saham TLKM naik 0,66% jadi Rp3.060 per saham. INDF naik 6,72% jadi Rp6.350, MDKA naik 1,29% jadi Rp3.140, MBMA naik 7,35% jadi Rp730, INCO naik 4,90% jadi Rp5.350, PTBA naik 0,95% jadi Rp3.180, BRPT naik 2,63% jadi Rp1.365, dan TINS naik 7,05% ke harga Rp3.340 per saham.
Sementara itu, mayoritas indeks Bursa Asia pada Selasa (31/3/2026) ditutup melemah kecuali indeks Hang Seng ditutup menguat 0,15%. Sedangkan indeks Nikkei 225, Shanghai dan Straits Times ditutup turun masing-masing 1,58%, 0,80% dan 0,24%.
