SIG Tetap Cuan di Tengah Lesunya Industri Semen 2025, Siapkan Ekspor dari Tuban Mulai 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG Group berhasil menjaga profitabilitas sepanjang 2025 di tengah perlambatan industri bahan bangunan. Konsistensi transformasi bisnis sejak Juli 2025 menjadi penopang utama kinerja Perseroan, sekaligus memperkuat daya saing di pasar domestik dan regional.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian audited tahun 2025, SIG membukukan volume penjualan 37,93 juta ton dengan pendapatan Rp35,24 triliun. Beban pokok pendapatan tercatat Rp28,17 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp4,49 triliun.

Di sisi bottom line, laba sebelum pajak tercatat Rp602 miliar, sedangkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp191 miliar.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan Perseroan secara disiplin menjalankan transformasi bisnis melalui tiga fokus utama, yakni penguatan pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan semen dan portofolio.

“Disiplin menjalankan transformasi bisnis sejak Juli 2025 membuat SIG lebih berdaya saing dan adaptif terhadap dinamika industri yang menantang. Melalui sejumlah inisiatif strategis, SIG mampu mempertahankan profitabilitas yang membuktikan ketahanan Perusahaan dalam menghadapi kondisi pasar semen domestik yang masih melambat,” kata Vita dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (1/2/2026)/

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil positif hingga akhir 2025. Pada kuartal III dan IV 2025, penjualan domestik SIG mengalami perbaikan dan ikut menopang total penjualan tahunan.

Tak hanya memperkuat pasar dalam negeri, SIG juga agresif memaksimalkan pasar regional. Sepanjang 2025, penjualan regional mencapai 7,95 juta ton, naik 14,3% secara tahunan dibandingkan 2024 yang sebesar 6,96 juta ton.

Dari sisi efisiensi, SIG berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 0,3% dan beban usaha di luar beban operasi lainnya turun 1,1% secara tahunan. Pengelolaan keuangan yang ketat juga membuat biaya keuangan bersih turun 32,7%, sehingga menopang kinerja laba secara keseluruhan.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, SIG menyiapkan langkah strategis baru melalui pengembangan dermaga dan fasilitas produksi ekspor semen di Tuban, Jawa Timur. Proyek ini menjadi bagian dari kerja sama strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation.

“SIG menargetkan untuk mulai ekspor pada pertengahan tahun 2026 dari fasilitas di Tuban, Jawa Timur dengan kapasitas 500 ribu hingga 1 juta ton semen per tahun,” ujar Vita Mahreyni.

Selain ekspor, kolaborasi dengan Taiheiyo juga diarahkan untuk pengembangan lini bisnis soil stabilization atau stabilisasi tanah. Langkah ini ditujukan untuk menjawab tantangan industri konstruksi sekaligus membuka pasar baru bagi pertumbuhan Perseroan.

Kinerja Keberlanjutan Menguat

Di luar kinerja bisnis, SIG juga memperlihatkan capaian keberlanjutan yang semakin solid sepanjang 2025.

Perseroan berhasil menurunkan intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) cakupan 1 menjadi 561 kg CO2/ton cement equivalent, atau turun 21% dibanding baseline 2010.

Sementara itu, emisi GRK cakupan 2 turun menjadi 57 kg CO2/ton cement equivalent, lebih rendah 15% dibanding baseline 2019.

Perbaikan ini ditopang oleh peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari biomassa, refuse-derived fuel (RDF), dan limbah industri. SIG juga memperluas pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya di unit operasional serta konversi gas panas buang menjadi listrik melalui Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif mencapai 681.567 ton, meningkat dari 550.085 ton pada 2024. Tingkat substitusi energi panas juga naik menjadi 9,77% dari sebelumnya 7,56%.

“Bagi SIG, kinerja keberlanjutan tidak kalah pentingnya dengan kinerja bisnis. Bahkan SIG telah membuktikan keduanya dapat berjalan beriringan bahkan saling mengisi satu dengan lainnya. SIG senantiasa meneguhkan komitmen keberlanjutan yang menjadi competitive advantage dan membuat Perusahaan menjadi lebih adaptif dan berdaya saing di tengah kondisi industri domestik yang menantang dan situasi geopolitik yang dinamis,” tutur Vita Mahreyni.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Danantara, SMBC, dan Mandiri Luncurkan Dana Leasing Pesawat Pertama RI Senilai USD 800 Juta

STOCKWATCH.ID (TOKYO) — Danantara Investment Management, SMBC Aviation Capital,...

Tripar Multivision (RAAM) Catat Pendapatan Bersih Rp180,96 Miliar pada 2026

STOCKWATCH,ID (JAKARTA) - Kinerja keuangan PT Tripar Multivision Plus...

Bukit Asam (PTBA) Bukukan Laba Bersih Rp2,93 Triliun pada 2025, Turun 43%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengumumkan kinerja...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru