STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Investor sedang menimbang retorika keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perang Iran. Sentimen pasar dipengaruhi oleh mendekatnya batas waktu gencatan senjata yang ditetapkan oleh Trump.
Mengutip CNBC International, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran. Ancaman ini berlaku jika kesepakatan damai tidak tercapai pada Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Trump juga menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur energi global.
AS dan Iran sebenarnya sedang mempertimbangkan rencana kerangka kerja untuk mengakhiri konflik. Namun, Teheran menolak tekanan Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz di bawah gencatan senjata sementara. Iran tetap menuntut penghentian perang secara permanen.
Iran telah menolak proposal gencatan senjata dari AS. Sebagai gantinya, Teheran mengajukan 10 poin usulan sendiri. Usulan tersebut mencakup penghentian permusuhan di kawasan, protokol lintasan aman di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, hingga rekonstruksi wilayah.
Trump menanggapi usulan Iran tersebut sebagai sebuah langkah kemajuan. Meski begitu, ia menganggap usulan tersebut belum memenuhi keinginan pihak AS.
“Mereka membuat sebuah… proposal yang signifikan. Tidak cukup baik, tetapi mereka telah membuat langkah yang sangat signifikan. Kita akan lihat apa yang terjadi,” ujar Trump.
Ketegangan geopolitik ini memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,3% ke level USD 115 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent naik sekitar 1,5% menjadi USD 111,37 per barel.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 memimpin penguatan dengan kenaikan 1,74% ke level 8.728,8. Bursa Jepang bergerak tipis dengan indeks Nikkei 225 naik 0,03% ke posisi 53.429,56. Indeks Topix yang lebih luas juga menguat 0,25% menjadi 3.654,02.
Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,82% ke level 5.494,78. Namun, indeks Kosdaq justru anjlok lebih dari 1% ke posisi 1.036,73. Indeks CSI 300 China daratan terpantau stagnan di level 4.440,62. Sementara itu, bursa saham Hong Kong masih tutup karena libur Paskah.
Brian Jacobsen, Kepala Strategi Ekonomi di Annex Wealth Management, memberikan analisanya. Ia menilai Trump sedang memberikan tekanan maksimal menjelang berakhirnya waktu negosiasi.
“Seiring mendekatnya tenggat waktu, [Trump] ingin memberikan lebih banyak tekanan untuk membawa mereka melewati garis finis,” kata Jacobsen.
Gejolak pasar akibat isu geopolitik ini sering kali menggerakkan harga secara sembarangan. Jacobsen melihat kondisi ini sebagai peluang bagi investor untuk mengatur ulang portofolio mereka demi imbal hasil jangka panjang.
“Ketika kekhawatiran geopolitik melanda pasar, harga cenderung bergerak tanpa pandang bulu. Saat itulah investor yang jeli dapat meningkatkan portofolio mereka,” tambah Jacobsen.
Jacobsen menyebut ada titik masuk yang layak pada perusahaan di sektor utilitas, keuangan, industri, dan teknologi. Adapun perusahaan pertahanan dan energi dianggap sebagai pihak yang paling diuntungkan dari konflik tersebut.
