Terdampak Aturan RKAB, UNTR Kaji Ulang Target Bisnis dan Capex 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT United Tractors Tbk (UNTR) berencana mengevaluasi ulang target operasional dan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun 2026. Langkah ini diambil menyusul adanya kebijakan pemerintah terkait pembatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara dan nikel.

Direktur UNTR, Vilihati Surya, menjelaskan evaluasi diperlukan untuk menyesuaikan kondisi lapangan terkini. Perseroan melihat adanya potensi penurunan produksi akibat regulasi tersebut.

“Kita perlu melakukan evaluasi lebih lanjut lagi, apalagi melihat nanti hasil dari Q1 2026 sehingga kita perlu melakukan revisi atas kinerja atau target operasional tahun 2026,” ujar Vilihati dalam paparan publik di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Vilihati berharap revisi RKAB dapat segera diperoleh pada semester pertama tahun ini. Hal tersebut bertujuan agar operasional perusahaan tetap optimal sepanjang 2026.

Sebelumnya, UNTR menetapkan target penjualan alat berat Komatsu sebanyak 3.300 unit. Untuk bisnis kontraktor penambangan melalui Pama dan KPP, target pengupasan lapisan tanah dipatok 1,13 miliar bcm.

Penjualan batu bara awalnya ditargetkan sebesar 18,8 juta ton, dengan porsi own sales sekitar 15 juta ton. Sementara itu, total produksi nikel dari PT Agincourt Resources dan Sumbawa Barat ditargetkan mencapai 8,2 juta ton dengan volume penjualan 2 juta wet metrik ton (wmt). Sebagai informasi, PT Agincourt Resources merupakan anak usaha tidak langsung UNTR yang mengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Sekitar 95% saham Agincourt dimiliki PT Danusa Tambang Nusantara—anak usaha langsung UNTR, dan 5% sisanya dimiliki PT Artha Nugraha Agung—unit kelolaan BUMD Tapanuli Selatan.

Vilihati menambahkan, selain target operasional, anggaran belanja modal konsolidasian senilai USD 850 juta juga turut dikaji ulang. Alokasi dana tersebut awalnya dibagi 40% untuk kontraktor penambangan dan 40% untuk pertambangan mineral.

Khusus untuk mineral, dana tersebut digunakan untuk pembangunan smelter RKEF dengan nilai investasi sekitar USD 113 juta. Sisanya sebesar 20% dialokasikan untuk sektor konstruksi dan pertambangan emas.

Perseroan kini tengah melakukan seleksi ketat terhadap prioritas penggunaan Capex. Upaya ini dilakukan demi menjaga stabilitas keuangan perusahaan.

“Kita juga harus siap untuk melakukan Capex reduction karena kita terus memonitor cash flow kita dan juga membuat UT tetap kepada balance sheet yang tetap positif dan tetap strong,” tegasnya.

Vilihati menambahkan revisi final terkait belanja modal akan diputuskan setelah laporan kinerja kuartal I 2026 rampung. Manajemen berkomitmen menjaga neraca keuangan tetap sehat di tengah tantangan regulasi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Triwulan I 2026, BTN Raup Laba Bersih Rp1,107 Triliun, Naik 22,12%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Laba DADA Melejit 216% ke Rp3,51 Miliar, Apa Pendorongnya?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA)...

BNI Rilis Surat Utang Global AT1 USD 700 Juta di Singapura, Patok Bunga 7,15%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru