Efek Domino Pengumuman MSCI: Saham BREN dan DSSA Merosot Tajam, Simak Strategi Analis

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Dua emiten raksasa, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), kini menjadi pusat perhatian para investor. Hal ini menyusul pengumuman resmi MSCI yang menyoroti masalah konsentrasi kepemilikan saham atau High Shareholding Concentration (HSC).

Lembaga indeks internasional tersebut berencana menghapus saham-saham yang masuk dalam kategori HSC dari indeks investable mereka. Kabar ini langsung memicu reaksi negatif di pasar. Harga saham BREN dan DSSA mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, memberikan pandangannya di Jakarta pada Selasa (21/4/2026). Ia menyebut kedua saham ini mengalami koreksi yang sangat signifikan. Penurunan ini berkaitan erat dengan dinamika pengumuman MSCI yang baru saja dirilis.

“Kedua saham tersebut memiliki bobot yang berpengaruh terhadap IHSG. DSSA saja termasuk salah satu pemimpin dalam pelemahan IHSG jika kita melihat dari stock losers-nya,” ujar Nafan.

Nafan menyarankan para investor untuk bersikap wait and see atau menunggu terlebih dahulu untuk saham DSSA. Ia mencatat DSSA memiliki level support di angka Rp2.340. Sementara itu, level resistance berada di kisaran Rp3.500 jika mengacu pada sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kondisi serupa terjadi pada saham BREN. Nafan melihat adanya gap support yang cukup jauh pada saham ini. Posisi terendah atau low BREN berada di kisaran Rp4.140, namun gap support terlihat di level Rp4.680 dengan resistance di kisaran Rp6.700.

“Untuk BREN maupun juga DSSA ini masih menunjukkan bearish candlestick yang begitu kuat. Sebaiknya menunggu konfirmasi dari pembentukan candlestick selanjutnya,” tambah Nafan Aji.

Senada dengan Nafan, Head of Equity Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai risiko terbesar bagi BREN dan DSSA adalah potensi dikeluarkan dari indeks MSCI. Jika ini terjadi, kedua emiten tersebut akan kehilangan dukungan dana dari investor global.

“Risikonya lebih pada ditendangnya mereka dari MSCI index saat ini, kehilangan potensi inclusion dan dukungan dana global, bukan semata-mata forced selling besar dari indeks saat ini,” ungkap Liza.

Liza menjelaskan pengelola dana pasif atau passive fund mau tidak mau pasti mengurangi posisi pada kedua saham tersebut. Menurutnya, langkah pengurangan posisi ini kemungkinan besar sudah dilakukan sejak jauh hari. Status HSC dinilai memberikan dampak negatif karena menurunkan visibilitas dan akses terhadap investor institusi global.

MSCI sendiri merilis pengumuman resmi pada Senin malam (20/4/2026) waktu setempat. Dalam pernyataan tersebut, MSCI mengakui adanya langkah reformasi transparansi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Namun, MSCI tetap akan mengambil tindakan tegas terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

Salah satu poin penting pengumuman tersebut adalah MSCI akan menghapus sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia masuk dalam kerangka kerja HSC baru. Selain itu, MSCI juga membekukan semua kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS).

Data BEI hingga 31 Maret 2026 menunjukkan ada sembilan emiten yang masuk dalam daftar HSC. Perusahaan-perusahaan ini memiliki tingkat kepemilikan oleh kelompok tertentu di atas 95%. BREN tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 97,31%, sedangkan DSSA mencapai 95,76%.

Daftar emiten HSC lainnya meliputi PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) sebesar 99,85%, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) 99,77%, dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) 98,35%. Ada juga PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 97,75%, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) 95,94%, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) 95,47%, serta PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) 95,35%.

Menghadapi situasi ini, Liza Camelia menyarankan investor untuk tidak melakukan panic selling. Ia menekankan pentingnya strategi investasi yang lebih selektif. Investor disarankan mengurangi alokasi pada saham dengan risiko HSC atau yang memiliki jumlah saham beredar di publik (free float) rendah.

“Saham dengan risiko HSC atau free float rendah sebaiknya dikurangi alokasinya (walaupun secara trading opportunity ada chance, menarik untuk SPECULATIVE BUY),” jelas Liza.

Ia merekomendasikan investor untuk mengalihkan fokus ke saham konglomerasi lain. Pilihlah saham yang memiliki likuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental yang kuat. Momentum untuk kembali masuk ke saham-saham dalam indeks MSCI biasanya akan lebih optimal setelah ada kejelasan lebih lanjut dan tekanan jual mulai mereda.

MSCI berencana melakukan tinjauan lebih lanjut terkait aksesibilitas pasar pada Juni 2026. Hingga saat itu, ketidakpastian diprediksi masih akan membayangi pergerakan saham BREN dan DSSA di lantai bursa. Para pelaku pasar kini menunggu apakah emiten-emiten raksasa ini mampu memperbaiki struktur kepemilikan mereka agar tetap kompetitif di mata investor global.

Harga Saham

Saham BREN terpantau merosot tajam pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Harga saham ini tergerus 625 poin atau melemah 9,47% ke level Rp5.975. Pada awal pembukaan, BREN sebenarnya sempat berada di posisi Rp6.450. Harga tertinggi harian hanya mampu menyentuh level Rp6.475. Tekanan jual yang kuat membawa harga merosot hingga titik terendah di Rp5.950. Volume perdagangan tercatat sebanyak 37,54 juta saham. Saat ini, kapitalisasi pasar BREN berada di angka Rp799,37 triliun. Pergerakan ini menunjukkan penurunan drastis dari harga tertinggi tahunannya yang sempat mencapai Rp9.700 pada Januari lalu.

Kondisi yang lebih tertekan dialami oleh saham DSSA. Harga saham ini anjlok hingga 14,98% dan berakhir di posisi Rp2.780. Penurunan ini setara dengan kehilangan 490 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. DSSA membuka perdagangan pada level Rp3.100 dan sempat naik tipis ke level tertinggi Rp3.120. Namun, harga terus merosot hingga menyentuh level terendah hariannya di Rp2.780 pada saat penutupan. Transaksi saham ini cukup aktif dengan volume mencapai 86,47 juta saham. Nilai kapitalisasi pasar DSSA kini tercatat sebesar Rp535,53 triliun. Angka ini merosot jauh jika dibandingkan dengan harga tertinggi sepanjang tahun 2026 yang pernah menyentuh Rp4.640.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Respons OJK atas Pengumuman MSCI: Reformasi Pasar Modal RI Diakui

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif...

Jawab BEI, Petrosea (PTRO) Ungkap Alasan Lepas KMS Senilai Rp1,73 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – PT Petrosea Tbk (PTRO) memberikan penjelasan...

Besok, KPI Tender Sukarela 1,712% Saham MNC Energy Investment (IATA) senilai Rp53,002 Miliar

STOCKATCH.ID (JAKARTA) – PT Karya Pacific Investama (KPI), bidang...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru