STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak variatif pada penutupan perdagangan Selasa (21/04/2026). Indeks Kospi Korea Selatan sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sentimen pasar dipengaruhi oleh harapan perdamaian di Timur Tengah meski ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berlanjut.
Mengutip CNBC International, indeks Kospi melonjak 2,72% ke posisi 6.388,47. Penguatan ini didorong oleh kenaikan signifikan saham-saham sektor teknologi. Indeks Nikkei 225 Jepang juga menguat 0,89% ke level 59.349,17.
Saham Samsung Electronics naik 2,1% dan produsen semikonduktor SK Hynix melesat 4,97%. Sebaliknya, indeks Topix Jepang turun tipis 0,18% menjadi 3.770,38. Indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup stagnan pada posisi 8.949,40.
Pasar saham China mencatatkan kinerja positif. Indeks CSI 300 naik 0,22% ke level 4.768. Indeks Hang Seng Hong Kong juga menguat 0,35% pada jam terakhir perdagangan.
Perusahaan pemasok Nvidia, Victory Giant, mencatat debut gemilang di Bursa Efek Hong Kong dengan lonjakan harga saham 60%. Perusahaan ini meraup dana sekitar 2,57 miliar USD. Nilai tersebut menjadi IPO terbesar di kota itu sejak September tahun lalu.
Di Korea Selatan, saham Hybe yang menaungi boyband BTS turun 2,35%. Penurunan terjadi menyusul kabar kepolisian mengajukan surat perintah penahanan untuk pendirinya, Bang Si-hyuk. Ia diduga menyesatkan investor awal sebelum penawaran umum perdana perusahaan pada 2020.
Situasi geopolitik tetap menjadi perhatian utama investor. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi tekanan dari pihak Amerika Serikat. Ia menyampaikan sikapnya melalui unggahan di media sosial X.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan perang,” ujar Ghalibaf.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan banyak bom jika kesepakatan tidak tercapai sebelum gencatan senjata berakhir. Meski situasi memanas, beberapa analis tetap optimis terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
Ohsung Kwon, Chief Equity Strategist Wells Fargo, memberikan pandangannya mengenai kondisi pasar saat ini. Ia menilai fundamental ekonomi masih cukup kuat menghadapi gejolak yang ada.
“Saya pikir ekonomi akan baik-baik saja selama tiga bulan ke depan,” kata Kwon dalam acara “Closing Bell: Overtime” di CNBC.
