STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau membawa kabar gembira bagi para pemegang sahamnya. Bank swasta terbesar di Indonesia ini berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun mulai 2026. Dengan skema ini, para investor akan menerima guyuran dividen setiap kuartal.
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, menjelaskan kebijakan baru tersebut dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026). Ia menyebut pembagian dividen interim akan dimulai pada kuartal kedua, ketiga, dan keempat. Sementara itu, dividen final biasanya dibayarkan pada kuartal pertama.
“Tahun ini mulai tahun ini kita akan lakukan setiap kuartalan. Akan mulai dari kuartal kedua, kuartal ketiga, dan kuartal keempat,” ujar Vera Eve Lim.
Sebelum kebijakan ini berlaku, BCA biasanya hanya membagikan dividen interim satu kali dalam setahun, yakni pada bulan Desember. Vera juga mencatat adanya kenaikan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR). Untuk tahun buku 2025, DPR BCA mencapai 72%, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 68%.
Sebelumnya, Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengatakan rencana ini telah mendapatkan lampu hijau dari jajaran manajemen. Langkah tersebut menjadi bagian dari rencana kerja perseroan untuk tahun 2026.
“Direksi dengan persetujuan dewan komisaris dapat membagikan dividen interim sebanyak 3 kali pada tahun 2026, yang direncanakan akan dibagikan per kuartal,” kata Hendra dalam siaran pers, Kamis (12/3/2026).
Sebagai informasi, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sebelumnya memutuskan pembagian dividen total Rp41,3 triliun untuk tahun buku 2025. Jumlah tersebut setara dengan Rp336 per saham. Nilai ini mencakup dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah cair sebelumnya dan dividen tunai Rp281 per saham.
Kinerja keuangan BCA pada awal 2026 juga terpantau mengkilap. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh penyaluran kredit yang naik 5,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp994 triliun.
Kredit produktif menjadi motor utama dengan nilai mencapai Rp760,2 triliun atau naik 7,8% YoY. Selain itu, kredit sektor berkelanjutan (ESG) tumbuh 10,0% YoY menjadi Rp258,4 triliun. Sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) bahkan melonjak tajam hingga 53,5% YoY.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA tumbuh 8,3% YoY menjadi Rp1.292,4 triliun. Dana murah atau CASA (giro dan tabungan) mendominasi dengan nilai Rp1.089 triliun. Capaian ini berkontribusi sekitar 85,2% dari total DPK perseroan.
Hendra Lembong menjelaskan performa positif ini dipicu oleh sejumlah faktor musiman dan promosi. Momentum Ramadan dan Idulfitri serta kesuksesan acara BCA Expoversary 2026 menjadi pendorong utama minat nasabah dalam mengambil kredit.
“Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idulfitri yang
mendukung kinerja kredit,” jelas Hendra Lembong.
Meski ekspansi kredit terus dipacu, BCA tetap menjaga kualitas aset dengan
disiplin. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) terjaga di
angka 1,8%. Perseroan juga mencatatkan rasio pencadangan NPL yang sangat solid
di level 174,6%.
