STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan laba bersih sebesar Rp17,8 triliun pada tahun buku 2025. Perolehan ini turun 9,5% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp19,67 triliun.
Sepanjang tahun lalu, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. Perseroan juga membukukan normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4%.
Penurunan laba bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh kebijakan percepatan depresiasi yang diterapkan sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan oleh Danantara Indonesia. Kebijakan ini dilakukan untuk menyelaraskan metode akuntansi, meningkatkan akurasi laporan keuangan, serta memastikan klasifikasi aset yang lebih tepat.
Dari sisi operasional, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp72,2 triliun dengan margin 49,2%. Sementara normalized EBITDA mencapai Rp73,2 triliun dengan margin 49,9%.
Segmen B2C yang dikelola PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp109,2 triliun. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan trafik data sebesar 15% secara tahunan. Perseroan menyebut kondisi pasar mulai stabil sejak paruh kedua 2025, sehingga Average Revenue Per User (ARPU) menunjukkan tren pemulihan.
Pada segmen B2B Infrastructure, Telkom membukukan pendapatan Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi bisnis fiber optik dan pusat data melalui NeutraDC yang mengoperasikan fasilitas di Cikarang, Singapura, Serpong, Surabaya, dan Sentul.
Anak usaha di bidang menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), mencatat pendapatan Rp9,5 triliun. Mitratel membukukan margin laba bersih 22,2% dan margin EBITDA 82,2%, dengan total kepemilikan 40.230 menara serta rasio penyewa (tenancy ratio) 1,57 kali.
Segmen Wholesale & International Service menyumbang pendapatan Rp10,7 triliun, sedangkan segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, managed solutions, dan layanan digital.
Hingga akhir 2025, belanja modal (capital expenditure/Capex) Telkom mencapai Rp27,5 triliun atau setara 18,8% dari total pendapatan. Sekitar 93% dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan internasional, sementara sisanya digunakan untuk pengembangan platform digital.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan strategi transformasi perusahaan menjadi fokus utama sejak 2025.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurut Dian, sepanjang 2025 Telkom mampu menjaga kinerja yang stabil berkat implementasi strategi transformasi tersebut.
“Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi,” katanya.
Sepanjang 2025, Telkom menghasilkan Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7%, yang terdiri atas capital gain 28,4% dan dividend yield 7,3%.
Perseroan juga menetapkan payout ratio sebesar 89% untuk tahun buku 2024 dan menjalankan program pembelian kembali saham (share buyback) dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.
Transformasi Telkom mencakup perubahan peran dari operating holding menjadi strategic holding. Perseroan kini berfokus pada empat segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan internasional.
Selain itu, Telkom tengah menjalankan aksi korporasi berupa pemisahan aset fiber ke InfraNexia serta divestasi PT Administrasi Medika dan PT TelkoMedika yang ditargetkan selesai pada semester I 2026.
