Jelang Rebalancing MSCI, Akankah Indonesia Bertahan di Emerging Market? Ini Kata Mandiri Sekuritas

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar modal Indonesia sedang berada di titik krusial. Lembaga indeks global MSCI akan segera mengumumkan hasil evaluasi periodiknya. Pengumuman ini dijadwalkan keluar pada Selasa (12/5) malam waktu New York atau Rabu (13/5) pagi waktu Indonesia.

Fokus utama pelaku pasar adalah nasib status Indonesia di indeks MSCI. Muncul kekhawatiran Indonesia akan turun kelas dari kategori Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Frontier Market (pasar perbatasan).

Mandiri Sekuritas memberikan pandangan optimistis terkait isu tersebut. Dalam acara Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Senin (11/5), perusahaan sekuritas itu menilai Indonesia masih berpeluang besar mempertahankan statusnya di kelompok Emerging Market.

“Secara basis kami mengekspektasikan Indonesia harusnya tetap bertahan di Emerging Market status, tidak turun kelas ke Frontier Market,” ujar Deputi Kepala Divisi Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Partogi Hutabarat.

Menurut Kresna, langkah regulator domestik dinilai sudah berada di jalur yang tepat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan delapan inisiatif strategis untuk memperkuat struktur pasar modal nasional.

Salah satu fokus utama reformasi tersebut adalah peningkatan porsi saham publik atau free float minimal 15% melalui berbagai aksi korporasi. Selain itu, regulator juga mulai meningkatkan transparansi data terkait struktur kepemilikan emiten.

BEI kini merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi sebagai bagian dari upaya meningkatkan keterbukaan informasi kepada investor global.

“Upaya reformasi pasar modal oleh OJK menjadi kunci penting untuk menarik kembali modal global,” kata Kresna.

Ia menambahkan, transparansi kepemilikan saham dan penguatan tata kelola emiten menjadi poin penting dalam penilaian lembaga internasional seperti MSCI.

“Inisiatif ini menurut kami harusnya bisa diterima oleh MSCI untuk memastikan Indonesia tetap bisa bertahan di Emerging Market status,” lanjutnya.

Meski demikian, Kresna mengakui ada kemungkinan beberapa emiten keluar dari konstituen indeks MSCI Indonesia sebagai dampak dari kebijakan transparansi tambahan tersebut. Namun, pasar dinilai tidak perlu bereaksi berlebihan.

Menurut dia, dampak terhadap dana pasif global (global passive funds) memang bisa terjadi apabila bobot Indonesia di indeks menurun. Namun, dana aktif global (global active funds) masih melihat peluang investasi yang menarik di Indonesia.

Kunci untuk menarik minat investor aktif, lanjut Kresna, adalah keberlanjutan reformasi pasar modal serta pertumbuhan bisnis dan laba emiten.

Data Mandiri Sekuritas menunjukkan, dari lebih dari 800 emiten di Bursa Efek Indonesia, hanya sekitar 72 perusahaan yang memiliki laba bersih di atas US$100 juta. Selain itu, masalah free float juga masih menjadi tantangan besar.

Sebanyak 24 emiten tercatat memiliki free float di bawah 15%, sementara 12 emiten lainnya berada di kisaran 15% hingga 25%.

Mandiri Sekuritas menilai reformasi yang dilakukan OJK dan BEI diharapkan mampu memperbaiki kualitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

Di sisi lain, dinamika pasar global juga dinilai membuka peluang baru bagi Indonesia. Korea Selatan disebut berpotensi naik kelas dari Emerging Market menjadi Developed Market.

Saat ini, bobot Korea Selatan di indeks MSCI Emerging Market mencapai lebih dari 20%. Jika negara tersebut keluar dari kategori Emerging Market, Indonesia dinilai berpotensi memperoleh limpahan aliran dana investasi.

“Otomatis jika kita bagi rata saja, ya pasti Indonesia dapat kebagian limpahan,” jelas Kresna.

Sementara itu, Vietnam juga tengah bersiap naik kelas dari Frontier Market ke Emerging Market. Namun, Mandiri Sekuritas menilai dampaknya terhadap Indonesia tidak akan terlalu signifikan dibanding potensi keluarnya Korea Selatan dari indeks Emerging Market.

Perubahan status Korea Selatan maupun Vietnam diperkirakan belum terjadi dalam waktu dekat. Keduanya kemungkinan baru masuk daftar pantauan (watchlist) MSCI pada Juni mendatang, sementara implementasi perubahan indeks diperkirakan paling cepat berlangsung pada 2028.

Kondisi tersebut memberi waktu bagi pasar modal Indonesia untuk terus melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pasar.

Pasar saham Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk bangkit. Tantangan domestik yang ada saat ini dipandang sebagai pekerjaan rumah yang dapat diselesaikan seiring meningkatnya kualitas, transparansi, dan tata kelola pasar modal nasional.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Catat Jadwal Cum, Prima Andalan (MCOL) Tebar Dividen Tunai Rp200 per Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) berencana...

Idea Asia Investama Jual 9,71 Juta Saham IDEA, Ini Nilai Penjualannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Idea Asia Investama memangkas porsi kepemilikan...

Setelah Akuisisi 59,24% Saham, Rama Indonesia Bersiap Tender Offer DPUM

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Rama Indonesia resmi menjadi pengendali...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru