STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menyiapkan tiga fokus utama pertumbuhan menyongsong tahun 2026. Emiten pertambangan nikel ini memperkuat strategi mulai dari optimalisasi izin tambang hingga rencana akuisisi.
Manajemen IFSH memaparkan rencana strategis ini dalam acara Public Expose di Jakarta, Senin (18/5/2026). Fokus pertama Perseroan adalah optimalisasi pemanfaatan Izin Usaha Pertambangan (IUP). Langkah ini dilakukan melalui penerapan Good Mining Practice (GMP).
Strategi kedua melibatkan pengembangan usaha baru di luar sektor pertambangan. Perseroan melirik potensi penanaman kelapa sebagai langkah diversifikasi bisnis. Ekspansi lahan menjadi salah satu agenda penting tahun ini.
Ketiga, IFSH membuka peluang pertumbuhan anorganik. Perseroan mengincar potensi akuisisi tambang baru guna mendukung pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi perusahaan di industri mineral kritis.
Struktur keuangan yang solid menjadi modal utama ekspansi tersebut. Hingga akhir 2025, porsi ekuitas IFSH mencapai 86,1% dari total aset. Kondisi ini memberikan ruang gerak luas bagi perusahaan untuk melakukan aksi korporasi.
Pasar nikel nasional juga dinilai masih sangat prospektif. Kebutuhan nikel Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 220 juta MT. Pertumbuhan industri hilirisasi dalam negeri menjadi pendorong utama permintaan komoditas tersebut.
Rencana besar di 2026 ini didukung oleh kinerja keuangan yang positif sepanjang 2025. IFSH membukukan pendapatan sekitar Rp1,0 triliun. Angka ini naik 2,90% dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba tahun berjalan Perseroan juga meningkat 6,39% secara tahunan menjadi Rp106,5 miliar. Direktur IFSH, Iwan Luison, menyebut keuntungan per saham atau earning per share (EPS) tercatat sebesar Rp37,51 per lembar saham.
Total aset perusahaan naik 5,2% menjadi Rp1,06 triliun. Liabilitas berhasil ditekan hingga turun 13,1% menjadi Rp147,6 miliar. Sementara itu, total ekuitas meningkat 9,0% menjadi Rp913,1 miliar.
Dari sisi operasional 2025, IFSH mencatat volume penjualan nikel sebesar 1,29 juta MT. Jumlah ini mencapai 59% dari target RKAB. Untuk komoditas silika, penjualan mencapai 978 ribu MT atau 65% dari target.
Harga jual juga terjaga dengan rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) di level USD15.177,12 per ton. Harga tertinggi sempat menyentuh USD16.126,33 per ton pada April 2025.
Muhammad Ishaq menegaskan komitmen Perseroan dalam menjalankan operasional yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan upaya transformasi menjadi perusahaan mineral kritis terintegrasi.
“Komitmen kami menghadirkan kinerja terbaik melalui operasi bertanggung jawab, efisien, dan inovatif,” ujarnya.
Perseroan juga serius menggarap aspek ESG. Hingga Maret 2026, area penanaman pohon telah mencapai 177 hektare. IFSH telah menempatkan jaminan reklamasi sebesar Rp52 miliar untuk periode 2011–2025.
