STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap optimistis mengejar target pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada 2026. Hingga saat ini, otoritas bursa tetap mematok target 50 perusahaan baru melantai di pasar modal tahun ini.
Realisasi IPO tergolong masih lambat dibandingkan negara tetangga. Bursa Malaysia tercatat mampu mendatangkan emiten baru hampir setiap bulan. Sementara itu, BEI baru mencatatkan satu emiten, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026.
WBSA resmi diperdagangkan dengan perolehan dana dihimpun sebesar Rp0,30 triliun. Minimnya jumlah emiten baru ini memicu pertanyaan terkait target tahunan bursa. Terlebih, kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang mengalami tekanan dan aksi jual investor asing (capital outflow).
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan penjelasan terkait kondisi ini. Menurutnya, keputusan untuk melantai di bursa sepenuhnya berada di tangan manajemen perusahaan.
“Keputusan untuk IPO adalah keputusan strategis masing-masing perusahaan. Dalam kondisi pasar seperti ini, mungkin ada pertimbangan tambahan terkait pricing yang optimal,” ujar Jeffrey di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Mengenai perbandingan dengan frekuensi IPO di Malaysia, Jeffrey menekankan perbedaan fokus. Otoritas pasar modal Indonesia saat ini lebih selektif dalam menyaring calon emiten.
“Kita sudah sama-sama sepakat mengutamakan kualitas daripada kuantitas,” tegasnya singkat.
Hingga 30 April 2026, terdapat 15 perusahaan dalam antrean (pipeline) pencatatan saham BEI. Berdasarkan klasifikasi aset merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, mayoritas calon emiten merupakan perusahaan skala besar.
Rinciannya, 11 perusahaan memiliki aset skala besar di atas Rp250 miliar. Sebanyak 4 perusahaan masuk kategori aset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. Sementara itu, tidak ada perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar dalam daftar tunggu tersebut.
Dari sisi sektoral, industri kesehatan, konsumer siklikal, dan konsumer non-siklikal mendominasi antrean dengan masing-masing 3 perusahaan. Sektor infrastruktur dan teknologi menyusul dengan masing-masing 2 perusahaan. Sedangkan sektor energi dan keuangan masing-masing menyumbang 1 perusahaan.
Jeffrey memastikan target 50 IPO tahun ini belum mengalami perubahan. BEI juga tetap membidik 6 emiten kategori lighthouse atau perusahaan dengan kapitalisasi aset di atas Rp3 triliun. Nilai penawaran minimal untuk kategori ini dipatok sebesar Rp700 miliar.
“Sampai saat ini kita masih sesuai dengan target. Nanti kalau ada perubahan akan kami sampaikan,” pungkas Jeffrey.
