spot_img

Ancaman Trump dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Kontrak Berjangka Saham AS

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat (AS) merosot pada perdagangan Minggu malam (21/6/2026) waktu setempat atau Senin pagi (22/6/2026) WIB. Penurunan ini terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia. Investor sedang memantau perkembangan negosiasi perang Iran dan menunggu rilis data inflasi.

Mengutip laporan Sean Conlon dari CNBC, kontrak berjangka S&P 500 diperdagangkan turun 0,4%. Nasdaq-100 futures melemah 0,6%. Sementara itu, futures Dow Jones Industrial Average anjlok 183 poin atau sekitar 0,4%.

Harga minyak merangkak naik akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 3% ke level 78 USD per barel. Minyak mentah Brent bertambah lebih dari 1% menjadi kisaran 81 USD per barel.

Tekanan pasar muncul usai Presiden Donald Trump melontarkan ancaman serangan baru ke Iran. Trump meminta para pemimpin negara tersebut segera menghentikan gangguan kelompok pendukung mereka di Lebanon. Pernyataan Trump keluar saat Wakil Presiden JD Vance bertemu pejabat Iran di Swiss untuk negosiasi tahap pertama.

Sebelumnya, tiga indeks utama AS berhasil bangkit pada Kamis pekan lalu. S&P 500 mencatat kenaikan mingguan ke-11 dari 12 pekan terakhir dengan pertumbuhan hampir 1%. Dow Jones juga naik mendekati 1% dalam sepekan. Nasdaq Composite memimpin dengan penguatan lebih dari 2%.

Pasar saham AS sendiri tutup pada hari Jumat untuk memperingati hari libur Juneteenth. Pekan ini, pasar akan menghadapi ujian penting berupa rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Mei pada hari Kamis.

Data PCE adalah tolok ukur inflasi yang paling diperhatikan oleh Federal Reserve (The Fed). Para ekonom memperkirakan inflasi inti PCE akan meningkat dibanding bulan April. Kondisi ini membuat investor khawatir The Fed akan segera menaikkan suku bunga.

Ekspektasi kenaikan suku bunga kini ditarik maju menjadi bulan Oktober. Investor kini sangat fokus pada setiap pembacaan inflasi yang muncul.

Kepala Riset Fundstrat Global Advisors, Tom Lee memberikan pandangannya terhadap situasi pasar. Lee melihat adanya potensi perubahan kondisi pasar di masa depan. Namun, ia menilai lingkungan saat ini masih cukup baik bagi investor.

“Kami masih percaya akhir tahun ini akan ada perubahan kondisi pasar yang tiba-tiba, yang terasa sangat mirip dengan pasar bearish, tetapi kami tidak ingin berdiri dan menyebutnya sebagai puncak,” ujar Lee.

Ia menambahkan situasi pasar saat ini masih memberikan peluang. “Saya pikir kondisinya masih menguntungkan bagi saham,” tegas Tom.

Kondisi pasar ke depan juga akan dipengaruhi beberapa faktor lain. Faktor tersebut antara lain pembentukan satuan tugas di Federal Reserve dan dampak rantai pasok dari penutupan Selat Hormuz.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bahas Selat Hormuz di Swiss, AS Tawarkan Dana Rekonstruksi Iran Rp5.340 Triliun

STOCKWATCH.ID (LUCERNE) – Delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran...

Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras, Selat Hormuz Resmi Ditutup Lagi!

STOCKWATCH.ID (SWISS) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump...

Pasar Khawatir Konflik Berlanjut, Bursa Saham Eropa Berakhir di Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru