STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Para pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan susunan Direksi masa bakti 2026-2030. Keputusan tersebut disahkan dalam dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar secara hybrid di Jakarta, Senin (29/6/2026).
RUPST dihadiri 90 pemegang saham atau mewakili 100% pemegang saham yang memiliki hak suara.
Salah satu agenda rapat menyetujui pengangkatan anggota Direksi Perseroan untuk masa bakti 2026-2030. Pengangkatan tersebut mengacu pada Surat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor SR-10/D.04/2026.
Berikut susunan Direksi BEI yang baru:
Direktur Utama: Jeffrey Hendrik
Direktur Penilaian Perusahaan: Saidu Solihin
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa: Irvan Susandy
Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan: Yulianto Aji Sadono
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko: Abdul Munim
Direktur Pengembangan: Iding Pardi
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum: Umi Kulsum
Dalam keterangan pers usai RUPST, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan Direksi periode 2026-2030 menargetkan Bursa Efek Indonesia masuk dalam jajaran 10 bursa terbesar di dunia pada 2030.
“Yang ingin kita capai untuk pasar modal Indonesia atau Bursa Efek Indonesia ke depan adalah bagaimana kita bisa membawa Bursa Efek Indonesia menjadi 10 di antara 10 bursa besar di dunia, baik berdasarkan kapitalisasi pasar dan atau nilai transaksi, yang pada hari ini kita ada di posisi ke-19 dan ke-17 untuk masing-masing ukuran tersebut,” kata Jeffrey.
Untuk mencapai target tersebut, BEI menetapkan empat pilar utama sebagai strategi pengembangan.
Pilar pertama adalah meningkatkan bisnis dari sisi transaksi. Pilar kedua mengembangkan bisnis non-transaksi. Pilar ketiga meningkatkan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat. Pilar keempat memperluas inklusivitas bagi seluruh segmen investor di pasar modal Indonesia.
“Tentu ini semua harus didasari oleh fungsi utama dari Bursa Efek Indonesia sebagai penyelenggara infrastruktur. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut tentu harus didukung oleh infrastruktur perdagangan, infrastruktur pengawasan, dan juga infrastruktur lainnya yang mendukung operasional di Bursa Efek Indonesia dapat berjalan dengan baik,” ujar Jeffrey.
Ia menambahkan, kolaborasi, konektivitas, dan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk mencapai sasaran tersebut.
Jeffrey juga menegaskan visi BEI tetap menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia.
“Visi dari Bursa Efek Indonesia tetap sama yaitu menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia. Kemudian kita juga menetapkan misi kita untuk menciptakan infrastruktur pasar keuangan yang terpercaya dan kredibel untuk mewujudkan pasar yang teratur, wajar, dan efisien, serta dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan melalui produk dan layanan yang inovatif,” ujarnya.
BEI juga menetapkan goal statement untuk menjadi bursa kelas dunia yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia.
Dalam periode 2026-2030, BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian ditargetkan mencapai Rp31 triliun.
Selain itu, jumlah perusahaan tercatat ditargetkan melampaui 1.100 emiten. Jumlah investor pasar modal ditargetkan mencapai 35 juta investor pada 2030. Rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) juga ditargetkan berada di atas 83%.
“Dengan dukungan empat pilar tadi, kami telah menetapkan target Bursa Efek Indonesia pada tahun 2030. Yang pertama adalah target kapitalisasi pasar menjadi Rp30.000 triliun. Yang kedua, target rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp31 triliun. Kemudian target perusahaan tercatat lebih dari 1.100 perusahaan tercatat. Jumlah investor pasar modal mencapai 35 juta investor di tahun 2030. Dan rasio market cap terhadap PDB di atas 83%,” kata Jeffrey.

