spot_img

PEFINDO Kantongi Mandat Rp50,81 Triliun, Outlook Surat Utang 2026 Tembus Rp196 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) optimistis terhadap prospek pasar modal di sisa tahun ini. Hingga 30 Juni 2026, lembaga pemeringkat tertua di Indonesia ini telah mengantongi mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp50,81 triliun.

Hendro Utomo, Direktur Pemeringkatan PEFINDO, menyebutkan mandat tersebut berasal dari 43 perusahaan yang berencana menerbitkan instrumen utang. Dari sisi sektor industri, pertambangan memimpin rencana penerbitan dengan nilai Rp6,30 triliun dari tiga perusahaan.

“Kebutuhan refinancing masih besar karena jatuh tempo EBUS (Emiten Bursa Efek Indonesia) pada semester II 2026 mencapai Rp107,51 triliun,” ujar Hendro dalam paparan PEFINDO Media Forum I – 2026 di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Data PEFINDO merinci mandat tersebut terdiri atas rencana penerbitan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi sebesar Rp20,38 triliun. Selain itu, terdapat rencana penerbitan Obligasi senilai Rp13,14 triliun, PUB Sukuk Rp7,76 triliun, Sukuk Rp4,51 triliun, MTN Rp2,79 triliun, Sekuritisasi Rp2,00 triliun, dan Surat Berharga Perpetual Rp220,00 miliar.

Berdasarkan jenis institusi, perusahaan non-BUMN mendominasi mandat dengan rencana penerbitan Rp36,65 triliun dari 30 perusahaan. Sementara itu, 13 perusahaan BUMN dan anak usahanya berencana menerbitkan surat utang senilai Rp14,16 triliun.

Terkait prospek sepanjang tahun, Hendro memproyeksikan penerbitan baru surat utang nasional pada 2026 akan berada di kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun. Titik tengah proyeksi ini berada pada angka Rp175,77 triliun.

Optimisme ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap stabil. Kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan menjadi peluang utama bagi para emiten.

Permintaan investor juga dinilai masih kuat. Hal ini terjadi karena investor terus mencari alternatif imbal hasil di tengah tekanan yang terjadi pada pasar saham.

Meski demikian, pasar tetap membayangi tantangan dari risiko geopolitik dan sikap hawkish di pasar Amerika Serikat. Kondisi ini dapat memicu volatilitas dan mendorong kenaikan yield benchmark.

Hendro juga mengingatkan adanya persaingan dari instrumen lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, investor kini cenderung lebih selektif.

“Investor lebih selektif terhadap rating A ke atas, sehingga penerbitan dari rating lebih rendah tetap terbatas,” kata Hendro.

Kupon surat utang bagi emiten dengan peringkat kategori A (single-A) ke bawah saat ini dinilai kurang kompetitif. Hal ini membuat sebagian emiten lebih memilih untuk mengakses pendanaan melalui kredit perbankan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dian Swastatika (DSSA) Catatkan Obligasi dan Sukuk di BEI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Besok, Kamis  9 Juli 2026 PT Dian...

Dana Murah Tembus Rp1.058 Triliun, BRI Berhasil Tekan Cost of Fund dan Dongkrak Profitabilitas

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Laba Bersih BTN Tumbuh 54,37% Jadi Rp1,85 Triliun per Mei 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru