STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tetap menjalankan agenda pengembangan pasar modal meski aktivitas perdagangan saham masih belum bergairah. Di tengah nilai transaksi harian yang masih relatif rendah, Bursa memilih fokus memperluas pilihan produk investasi, memperdalam pasar, dan memperkuat infrastruktur perdagangan sebagai upaya meningkatkan likuiditas dalam jangka panjang.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy, mengatakan kondisi pasar saat ini dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena itu, BEI tidak melihat sepinya transaksi hanya berasal dari satu penyebab.
“Ini kan many factors. Ya… tensi global, terus IPO besar-besaran di luar dan yang lain,” kata Irvan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Menurut Irvan, kondisi tersebut tidak mengubah arah kebijakan Bursa. Seluruh program yang telah disusun sejak awal tahun tetap dijalankan sesuai rencana.
“Nah dari kami sih sebenarnya tetap strict dengan apa yang kami sudah rencanakan. Misalnya ETF Gold itu tetap kita kejar di semester ini, kalau bisa kuartal III atau awal kuartal IV,” ujarnya.
Selain ETF Emas, BEI juga masih membahas sejumlah instrumen investasi baru bersama pelaku pasar dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk produk ETF lainnya dan PALN.
“Kita juga sedang mencoba diskusi terkait dengan beberapa produk misalnya ETF, PALN dan yang lain. Itu kan masih diskusi juga antara pelaku kita dan OJK,” kata Irvan.
Ia menegaskan kondisi pasar yang sedang melemah bukan alasan untuk menghentikan inovasi. Justru di tengah situasi seperti sekarang, Bursa harus tetap menghadirkan produk baru dan memperkuat fondasi pasar modal Indonesia.
“Jadi kita tetap strict dengan apa yang kita sudah rencanakan karena suka tidak suka market seperti apa pun kami harus tetap bisa menyediakan infrastruktur yang baik, menyediakan produk yang menarik dan juga melakukan pendalaman pasar. Dan ini akan terus kami lakukan dengan kondisi market seperti apa pun,” ujarnya.
Irvan mengatakan BEI juga terus melibatkan Anggota Bursa dan pelaku pasar dalam setiap pengembangan produk. Menurut dia, masukan dari industri menjadi bagian penting dalam proses pendalaman pasar.
“Dan pasti akan ada keterlibatan Anggota Bursa, ada keterlibatan dari investor. Paling nggak yang dekat adalah Anggota Bursa. Misalnya kami coba terus diskusi dengan Anggota Bursa,” katanya.
Ia mengakui struktur pasar modal Indonesia masih sangat bergantung pada perdagangan saham. Sementara instrumen lain, seperti derivatif dan obligasi, masih memiliki porsi yang relatif kecil.
“Saat inilah sebenarnya market seperti ini kan kita memang sangat bergantung sama equity. Derivatif kita sudah mulai tapi masih terlalu kecil. Bonds platform kita sudah mulai baik tapi bonds kan most likely big players, teman-teman ritel mungkin nggak banyak,” ujarnya.
Karena itu, menurut Irvan, pasar modal Indonesia membutuhkan lebih banyak pilihan produk investasi yang menarik agar mampu menjangkau investor lebih luas.
“Nah itu makanya kita harus punya produk yang lebih banyak tapi juga diminati oleh pelaku. Nah ini yang sedang kita diskusikan juga, tapi kita coba deliver beberapa janji-janji kita atau rencana kita sebagaimana kita jelaskan di awal tahun,” katanya.
Sementara itu, tekanan di pasar saham masih berlanjut pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Berdasarkan data RTI Business, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 113,125 poin atau 1,89% ke level 5.873,372 dari posisi pembukaan 5.984,182. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.984,473 sebelum turun hingga menyentuh level terendah 5.872,016.
Nilai transaksi di seluruh pasar tercatat sekitar Rp10,532 triliun dengan volume perdagangan mencapai 22,486 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1.973.043 kali.
Pergerakan saham juga didominasi pelemahan. Sebanyak 482 saham ditutup turun, sementara 191 saham menguat dan 116 saham tidak mengalami perubahan harga. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada akhir perdagangan tercatat sekitar Rp10.299,302 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan likuiditas pasar masih belum pulih sepenuhnya. Secara year to date (YTD), IHSG juga masih bergerak di zona negatif, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini.

