spot_img

Trump Blokade Iran, Harga Emas Dunia Terjun Bebas 3%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Senin (13/7/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (14/7/2026) WIB. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).  Hal ini menyusul memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak.

Mengutip CNBC, harga emas spot turun 3,1% ke posisi 3.991,56 USD per ons troi. Angka ini menunjukkan pelemahan harga emas selama dua sesi berturut-turut.  Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup melemah 2,6% pada level 4.005,70 USD.

Kejatuhan harga emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.  Langkah ini membuat pasar minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi.  Kondisi tersebut memperkuat dugaan suku bunga AS akan tetap tinggi dalam waktu lama.

Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com, memberikan pandangannya.  Ia menyebut kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah merugikan aset tanpa imbal hasil seperti emas.

“Harga minyak melonjak karena konflik Timur Tengah, dan ada potensi pengetatan kebijakan dari Federal Reserve. Ini adalah berita buruk bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas,” ujar

Fawad Razaqzada. Fawad menilai harga emas bisa terus tertekan jika minyak semakin mahal.  Tekanan jual yang kuat berisiko membawa emas ke level lebih rendah. “Jika harga minyak terus naik, harga emas bisa pecah dan berpotensi menuju level 3.800 USD pada awalnya, dan mungkin ke 3.500 USD seiring waktu jika tekanan jual meningkat,” tambah Fawad.

Trump sebelumnya menyatakan militer AS akan memblokade kapal-kapal Iran di Selat Hormuz.  Ia juga meminta biaya kompensasi 20% bagi setiap kargo yang melintas di jalur tersebut.  Berita ini langsung membuat kontrak berjangka minyak melonjak 5%. Harga minyak yang lebih mahal dapat memicu inflasi melalui kenaikan biaya energi dan transportasi.  Central bank biasanya akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya untuk menekan harga.

Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar kini melihat peluang 71% The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Suku bunga tinggi cenderung membuat investor beralih dari emas ke aset yang memberikan bunga.

Ketua Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan testimoni kebijakan moneter pertamanya di depan Kongres pada hari Selasa. Investor akan mencari petunjuk mengenai arah suku bunga masa depan dari pernyataan Warsh tersebut.

Pemerintah AS juga akan merilis data ekonomi penting minggu ini.  Laporan tersebut meliputi Indeks Harga Konsumen (CPI), Indeks Harga Produsen (PPI), serta laporan penjualan ritel bulan Juni. Selain itu, data klaim pengangguran mingguan juga menjadi perhatian pelaku pasar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Futures Wall Street Tertekan, Pasar Waspadai Efek Konflik AS-Iran dan Data Inflasi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall...

Trump Blokade Iran, Harga Minyak Brent Terbang Lebih dari 9%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari...

Futures Wall Street Terpuruk, Pasar Dihantui Konflik AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru