STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat total penerbitan surat utang korporasi pada semester I-2026 mencapai Rp87,3 triliun. Nilai tersebut turun 3,91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp90,9 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PEFINDO, Suhindarto, mengatakan penerbitan surat utang pada awal 2026 masih relatif semarak. Kondisi ini didukung yield yang rendah pada Januari-Februari dan biaya pendanaan yang lebih kompetitif dibandingkan perbankan.
“Penerbitan pada awal tahun 2026 masih relatif semarak. Perusahaan memanfaatkan yield rendah selama Januari-Februari untuk meraih pendanaan dari pasar surat utang,” ujar Suhindarto dalam paparan PEFINDO, Rabu (22/7/2026).
Menurut PEFINDO, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk pada semester I-2026 mencapai Rp80,3 triliun atau turun 11,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp90,3 triliun. Sebaliknya, penerbitan Medium Term Notes (MTN) meningkat menjadi Rp7,1 triliun dari Rp0,4 triliun pada semester I-2025. Hingga Juni 2026 juga belum terdapat penerbitan efek utang lainnya seperti sekuritisasi dan surat berharga komersial (SBK).
Meski nominal penerbitan menurun, rasio penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo justru meningkat. Pada semester I-2026, rasio tersebut mencapai 158,2%, lebih tinggi dibandingkan semester I-2025 sebesar 140,3%. Total penerbitan semester I-2026 tercatat Rp87,35 triliun, sementara surat utang yang jatuh tempo mencapai sekitar Rp55,2 triliun.
Dari sisi penggunaan dana, penerbitan untuk modal kerja dan investasi meningkat. Sebaliknya, tujuan refinancing mulai termoderasi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerbitan surat utang juga masih didominasi emiten swasta. Sementara berdasarkan peringkat, surat utang kategori AAA dan A menjadi kontributor terbesar sepanjang semester I-2026, sedangkan penerbitan kategori BBB mengalami penurunan.
Secara sektoral, industri kehutanan, pulp dan kertas menjadi penyumbang penerbitan terbesar dengan nilai Rp12,8 triliun. Posisi berikutnya ditempati perusahaan induk, sektor pembiayaan konsumtif-otomotif, serta perbankan yang masing-masing mencatat penerbitan Rp11,7 triliun. Sektor pertambangan menyusul dengan nilai Rp8,1 triliun.
PEFINDO memperkirakan nilai penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 masih akan terjaga. Penerbitan baru diproyeksikan berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun. Realisasi hingga Juni 2026 telah mencapai Rp87,35 triliun atau setara Rp174,70 triliun jika disetahunkan.
Suhindarto menyebut kebutuhan refinancing yang masih besar menjadi salah satu pendorong pasar surat utang. Pada semester II-2026, surat utang yang jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp107,51 triliun. Selain itu, permintaan investor masih kuat karena investor mencari alternatif imbal hasil di tengah tekanan di pasar saham.
Namun, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Risiko geopolitik dan sikap hawkish di pasar Amerika Serikat berpotensi meningkatkan volatilitas dan mendorong kenaikan yield benchmark. Selain itu, investor diperkirakan tetap selektif dan cenderung memilih surat utang dengan peringkat minimal kategori A.
Per 30 Juni 2026, PEFINDO juga telah menerima mandat pemeringkatan surat utang dari 43 perusahaan dengan total rencana penerbitan mencapai Rp50,82 triliun. Sektor pertambangan menjadi kontributor terbesar dengan rencana penerbitan Rp6,3 triliun, disusul perbankan Rp5,03 triliun dan perusahaan induk Rp5 triliun.
Mayoritas rencana penerbitan tersebut berasal dari perusahaan non-BUMN yang mencapai Rp36,66 triliun, sedangkan BUMN dan anak usaha/BUMD berkontribusi Rp14,16 triliun.

