STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan penghapusan pencatatan instrumen utang milik BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN). Efek tersebut adalah Obligasi Berkelanjutan VI BFI Finance Indonesia Tahap II Tahun 2025 Seri A.
Pencatatan obligasi ini akan berakhir hari ini, Senin 29 Juni 2026. Mulai hari i, efek ini tidak lagi diperdagangkan melalui bursa. Langkah ini dilakukan karena masa berlaku obligasi telah habis atau jatuh tempo.
Vera Florida, Kadiv Penilaian Perusahaan 1 BEI, menjelaskan ketentuan ini dalam pengumuman resminya. “Mulai tanggal 29 Juni 2026 maka efek sebagai berikut tidak tercatat dan tidak dapat diperdagangkan lagi melalui Bursa Efek Indonesia,” ujar Vera.
Obligasi dengan kode seri BFIN06ACN2 ini memiliki nilai pokok sebesar Rp414,3 miliar. Perusahaan menerbitkan efek ini pada 17 Juni 2025. Masa berlaku obligasi tersebut ditetapkan selama 370 hari kalender.
BFIN menetapkan tingkat bunga tetap untuk seri ini sebesar 6,45% per tahun. Pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan sekali. Pembayaran bunga terakhir akan diberikan bersamaan dengan pelunasan pokok obligasi pada 27 Juni 2026.
Penerbitan ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) VI BFI Finance Indonesia. Perusahaan menargetkan total dana yang dihimpun mencapai Rp6 triliun. Pada tahap II tahun 2025, total pokok obligasi yang ditawarkan mencapai Rp1 triliun yang terbagi dalam tiga seri.
Instrumen utang ini telah mendapatkan peringkat AA-(idn) dari PT Fitch Ratings Indonesia. Peringkat ini menunjukkan kemampuan kuat perusahaan untuk memenuhi komitmen keuangannya. Dalam emisi ini, BFIN menunjuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebagai Wali Amanat.
Pande Made Kusuma Ari A, Kadiv Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, turut menandatangani pengumuman tersebut. Seluruh proses administrasi pemisahan efek dilakukan melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selaku agen pembayaran.
Dana hasil penawaran umum ini digunakan untuk modal kerja perusahaan. BFIN memfokuskan penggunaan dana untuk pembiayaan investasi, modal kerja, dan multiguna. Saat ini, fokus utama penyaluran pembiayaan perusahaan adalah segmen usaha kecil dan menengah.

