STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak naik pada penutupan perdagangan Rabu (26/11/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (27/11/2025) WIB. Penguatan harga komoditas ini terjadi menjelang libur Thanksgiving di Amerika Serikat. Investor di Wall Street menilai ulang potensi kelebihan pasokan serta menunggu perkembangan negosiasi perdamaian Rusia dan Ukraina.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent naik 65 sen atau 1.04% ke posisi US$63.13 per barel., di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 70 sen atau 1.21% ke level US$58.65 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan ini terjadi di tengah laporan yang menunjukkan stok minyak mentah Amerika Serikat bertambah 2.8 juta barel menjadi 426.9 juta barel pekan lalu. Impor minyak mentah melonjak dan jauh melampaui ekspektasi analis yang hanya memproyeksikan kenaikan 55.000 barel.
“Kita memang sedang menuju kondisi kelebihan pasokan yang cukup besar, tidak diragukan lagi, dan penambahan stok ini menunjukkan hal tersebut,” ujar John Kilduff, Partner Again Capital.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) mencatat impor minyak mentah naik 1.05 juta barel per hari menjadi 2.84 juta barel per hari. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal September.
Tekanan suplai juga muncul setelah Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak dan gas turun untuk pertama kalinya dalam empat pekan.
Dari sisi kebijakan produsen, tiga sumber OPEC+ menyebut organisasi itu kemungkinan mempertahankan level produksi pada pertemuan Minggu mendatang.
Sentimen pasar juga bergerak mengikuti dinamika politik antara Rusia dan Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan kepada para pemimpin Eropa bahwa ia siap melanjutkan kerangka kesepakatan yang didukung Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu sempat menekan harga Brent dan WTI hingga menyentuh posisi terendah satu bulan.
Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai kondisi masih penuh ketidakpastian. “Intinya belum ada kesepakatan damai dan akan sulit untuk memuaskan semua pihak untuk duduk bersama dan menandatangani perjanjian,” ujarnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengarahkan perwakilannya untuk bertemu secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat Ukraina. Seorang pejabat Ukraina menyebut Zelenskiy bisa melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan untuk memfinalkan kesepakatan.
Tony Sycamore, analis IG Market, menilai pasar sangat sensitif terhadap hasil perundingan. “Jika final, kesepakatan itu bisa dengan cepat menghapus sanksi Barat terhadap ekspor energi Rusia,” katanya dalam catatan klien. Ia menambahkan WTI bisa turun menuju sekitar US$55. “Untuk saat ini pasar menunggu kepastian, tapi risikonya cenderung ke harga yang lebih rendah kecuali pembicaraan gagal.”
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat, Inggris dan Eropa memperketat sanksi terhadap Rusia. Di sisi lain, impor minyak Rusia ke India diperkirakan turun ke posisi terendah tiga tahun pada Desember.
Tekanan pasokan sedikit mereda setelah Caspian Pipeline Consortium (CPC), yang menangani sekitar 1.5% pasokan minyak global, kembali melakukan pengiriman. Operasi sempat dihentikan akibat serangan drone Ukraina awal pekan ini.
Berita ini memberi gambaran pasar yang masih bergerak hati-hati di tengah campuran sentimen geopolitik, suplai, dan kebijakan produsen minyak dunia.
