STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Perusahaan properti dan real estat, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) atau PIK2 mulai melakukan pembelian kembali (buyback) saham di BEI, mulai hari ini, Rabu 20 Mei 2026 sampai dengan 19 Agustus 2026.
Direksi CBDK dalam laporan keterbukaan informasi tentang rencana buyback saham yang disampaikan ke BEI, Selasa 19 Mei 2026 menjelaskan, dana yang disiapkan untuk buyback saham Perseroan sebesar Rp250 miliar. Adapun dana buyback saham tersebut berasal dari kas Perseroan.
Buyback saham CBDK dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan. Terkait aksi korporasi ini, Perseroan telah menunjuk PT Ina Sekuritas Indonesia sebagai Anggota Bursa untuk mengeksekusi buyback saham CBDK.
Pembelian kembali saham bertujuan membantu mengurangi tekanan jual di pasar pada saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberikan indikasi kepada investor bahwa Perseroan memandang harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan nilai intrinsik Perseroan.
“Pembelian kembali saham merupakan langkah Perseroan dalam merespons kondisi pasar modal yang berfluktuasi, khususnya pergerakan IHSG yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan sentimen pasar,” kata Direksi CBDK.
Menurut Direksi CBDK, buyback saham Perseroan juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara fundamental Perseroan dan kondisi pasar, mengoptimalkan struktur permodalan, serta mempertahankan tingkat kepercayaan pemegang saham dan pemangku kepentingan terhadap Perseroan.
Direksi menegaskan, pelaksanaan pembelian kembali saham ini didukung oleh tingkat likuiditas Perseroan yang memadai dan dilakukan tanpa mengganggu kondisi keuangan, kegiatan operasional, maupun rencana investasi Perseroan. Hal ini mencerminkan bahwa Perseroan berada dalam kondisi keuangan sehat.
Pada saat keterbukaan Informasi ini disampaikan, pergerakan harga saham CBDK dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date (YTD) mencerminkan rentang penurunan. Terhitung sejak awal tahun hingga 18 Mei 2026, harga saham CBDK tercatat mengalami penurunan hingga 50%, sementara pada periode yang sama IHSG mencatatkan penurunan hingga 25%. (konrad)

