STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Multikarya Asia Pasifik Raya Tbk (MKAP) bersiap memperkuat ekspansi bisnis pada tahun ini. Perseroan baru saja mengantongi restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menambah enam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Direktur Utama MKAP, Eric Handoko, mengatakan penambahan enam KBLI menjadi salah satu agenda utama RUPSLB yang digelar Senin (22/6/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan penyesuaian terhadap perubahan regulasi.
“Jadi itu untuk pengembangan usaha ke depan. Ada beberapa pekerjaan jasa yang memang kita belum punya KBLI-nya, tetapi bersentuhan dengan apa yang sudah kita lakukan sekarang,” kata Eric di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Menurut dia, perubahan klasifikasi dan munculnya subkategori baru dalam KBLI membuat perseroan perlu melakukan penyesuaian agar dapat mengikuti berbagai tender yang sesuai dengan kemampuan yang telah dimiliki.
“Jadi bukan serta merta kita tiba-tiba mau switch haluan. Tidak juga,” ujar Eric
Penambahan KBLI tersebut terutama berkaitan dengan bidang arsitektur dan pekerjaan saluran listrik. MKAP melihat peluang baru dari sejumlah basis operasional yang telah dimiliki di Jakarta, Duri, Riau, serta beberapa wilayah lainnya. Pekerjaan yang dibidik pada dasarnya masih sejalan dengan kegiatan usaha yang selama ini dijalankan. “Kami melakukan penambahan KBLI untuk pengembangan usaha ke depan,” tegasnya.
Menurut Eric, amandemen peraturan Kementerian Perdagangan memicu perubahan struktur KBLI. Perseroan perlu menyesuaikan sub-kategori jasa agar tetap relevan dengan kontrak-kontrak baru. Fokus utama tetap pada layanan pendukung di lapangan migas.
Ekspansi itu dilakukan setelah MKAP membukukan kinerja yang solid sepanjang 2025. Perseroan mencatat pendapatan Rp405,6 miliar atau naik 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong laba bersih meningkat 38,5%.
“Secara performance tahun lalu kita cukup baik. Ada peningkatan sekitar 14% dari topline dan net profit tumbuh sekitar 35%-an,” kata Eric.
Pada akhir 2025, total aset perseroan mencapai Rp521 miliar. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan piutang usaha sebesar 27,4% dan peningkatan aset tetap sebesar Rp25,3 miliar. Dana itu digunakan untuk pembangunan workshop baru di Duri, Riau, serta penambahan alat berat.
Di saat yang sama, MKAP berhasil memangkas total liabilitas sebesar Rp36,8 miliar atau turun 14,7% melalui pelunasan pinjaman bank jangka pendek secara bertahap. Ekuitas perseroan meningkat 16,3% menjadi Rp323,4 miliar dengan current ratio sebesar 1,8 kali.
Meski kinerja tahun lalu tumbuh, MKAP memilih bersikap konservatif pada 2026. Perseroan membidik pendapatan sekitar Rp400 miliar atau relatif sama dengan pencapaian tahun sebelumnya.
Eric mengakui tahun ini menjadi periode yang sangat menantang akibat tekanan ekonomi global, kondisi domestik, geopolitik, hingga perubahan iklim bisnis.
“Optimis, tapi optimismenya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini flat dan kemungkinan malah mungkin agak turun sedikit. Tapi kita usahakan paling tidak flat,” imbuhnya.
Menurut Eric, kenaikan harga minyak dunia tidak serta merta memberikan keuntungan besar bagi perseroan. Sebab MKAP merupakan kontraktor, bukan pemilik blok migas yang memperoleh pendapatan langsung dari penjualan minyak. Selain itu, sebagian besar kontrak yang dimiliki merupakan kontrak jangka panjang sehingga penyesuaian harga tidak bisa dilakukan secara cepat.
Tekanan lain datang dari pelemahan rupiah. Walaupun memproduksi di dalam negeri, sebagian bahan baku perseroan masih diimpor dari Eropa dan Amerika Serikat.
“Impact-nya lumayan menyakitkan. Tanpa supplier menaikkan harga saja kita sudah beli barang lebih mahal sekitar 10%,” kata Eric.
Perseroan telah melakukan lindung nilai (hedging) valuta asing secara bertahap sejak awal tahun untuk mengurangi risiko kurs. Namun pelemahan rupiah tetap berdampak pada margin keuntungan. Jika margin laba bersih pada 2025 berada di sekitar 15%, tahun ini diperkirakan turun menjadi 11%-12% dengan asumsi kurs dolar AS mencapai Rp18.000 per USD.
“Margin project menurun. Kalau tahun lalu net profit margin sekitar 15%, tahun ini forecast di 11% sampai 12%,” tutur Eric.
Di tengah tantangan tersebut, MKAP masih memperoleh sejumlah kontrak baru, terutama dari grup Pertamina dan perusahaan migas nasional lainnya. Perseroan mendapat kontrak jasa perawatan dan perbaikan dari Medco, kontrak Long Term Service Agreement (LTSA) di unit kilang Pertamina, serta pekerjaan di lingkungan PGN, Pegasol dan Pertamina Hulu Energi (PHE).
Menurut Eric, kontrak-kontrak jangka panjang tersebut akan menjaga kesinambungan pendapatan perseroan selama dua hingga tiga tahun mendatang.
“Sangat bisa membantu untuk mencapai target revenue. Long Term Service Agreement lebih ke longevity, memastikan perseroan mendapatkan revenue stream setiap bulan selama dua sampai tiga tahun ke depan,” katanya.
Untuk mendukung ekspansi, MKAP mengalokasikan belanja modal sekitar Rp20 miliar pada 2026. Dana tersebut digunakan untuk peningkatan fasilitas dan pembelian peralatan fabrikasi guna mendukung program peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Eric menegaskan komitmen perseroan terhadap TKDN. MKAP terus berinovasi agar suku cadang peralatan migas bisa diproduksi secara lokal. Penguatan fasilitas workshop di Duri, Riau, menjadi salah satu fokus utama investasi tahun ini.
Adapun sumber pendanaan capex ini berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan. Perseroan belum memiliki rencana melakukan aksi korporasi besar dalam waktu dekat. Fokus manajemen saat ini adalah menjaga efisiensi di tengah tekanan kurs yang tinggi.
“Kita selalu berinovasi. Sekarang tidak hanya membuat pompa, kompresor atau genset, tetapi sparepart-nya pun mau kita buat di dalam negeri,” jelas Eric.
Meski tahun ini dinilai lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Eric tetap optimistis perseroan dapat menjaga kinerja. Sejumlah kontrak jangka panjang yang telah dimiliki memberikan sumber pendapatan berulang yang menjadi fondasi bisnis MKAP.
“Kita selalu optimis. Perseroan sudah punya captive market yang akan menjadi revenue setiap tahun selama kontraknya diperpanjang. Untuk growth, kita tetap harus mencari kontrak baru yang lebih besar,” kata Eric.

