STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak lebih hidup pada Senin pagi, 27 April 2026. Ratusan pelaku pasar modal berkumpul dengan penuh antusias. Hari itu menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia investasi domestik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah resmi meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana.
Acara ini sekaligus menandai pembukaan Pekan Reksa Dana 2026. Harapan besar tersampir pada program nasional ini. Tujuannya jelas, yakni memperdalam pasar modal Indonesia. Selain itu, program ini ingin mengajak masyarakat membangun kemandirian ekonomi secara konsisten.
Ketua OJK, Friderica Widyasari Dewi, hadir membawa kabar gembira terkait pertumbuhan investor. Data terbaru menunjukkan angka yang sangat signifikan. Jumlah investor pasar modal Indonesia kini menembus 24.744.221 orang. Dari total tersebut, sebanyak 23,49 juta merupakan investor reksa dana.
Angka ini melonjak 22,43% dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Komposisinya pun didominasi oleh investor lokal sebesar 99,82%. Hal paling menarik terletak pada demografi para pemilik modal tersebut. Lebih dari separuh atau 54,71% investor berada di kelompok usia di bawah 30 tahun.
Friderica menekankan pentingnya kualitas ekosistem di tengah pertumbuhan massif ini. Pemahaman mendalam atas kebutuhan investasi menjadi fondasi utama. Ia mendorong Manajer Investasi (MI) lebih proaktif memahami kebutuhan tiap kelompok masyarakat. Pendekatan untuk ibu rumah tangga tentu berbeda dengan kelompok pelajar.
“Basis investor yang semakin besar harus diiringi dengan kualitas ekosistem yang memadai,” ujar Friderica dalam sambutannya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap penipuan. Rumus utamanya adalah memegang prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Komunikasi aktif antara pelaku pasar dan masyarakat menjadi kunci pencegahan investasi bodong. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab profesi atau fiduciary duty para pengelola dana.

Senada dengan OJK, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat optimisme besar pada ekonomi nasional. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I-2026 akan mendaki hingga menyentuh 5,5% ke atas. Lebih tinggi ketimbang realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,39%. Transformasi dan reformasi birokrasi pada sektor pajak dan bea cukai mulai menunjukkan hasil nyata.
Purbaya meyakini target pertumbuhan ekonomi 8% dari Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar mimpi. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, angka tersebut diprediksi akan mulai terlihat. Kondisi fundamental ekonomi yang kuat ini akan mengerek prospek pasar saham secara signifikan.
Program PINTAR hadir sebagai jawaban atas keraguan masyarakat mengenai Risiko investasi. Program ini menggunakan mekanisme Rupiah Cost Averaging yang terotomasi. Investor menyisihkan uang dalam jumlah tetap secara rutin. Melalui prinsip compounding, risiko market timing dapat dimitigasi dengan baik.
“PINTAR memitigasi risiko market timing. Anda tidak perlu lagi pusing kapan waktu terbaik untuk masuk ke pasar,” ungkap Purbaya.
Ia memastikan pengawasan di pasar modal kini jauh lebih ketat. Integritas pasar terus diperbaiki untuk menjamin keamanan dana masyarakat. Tidak boleh ada lagi praktik manipulasi harga yang merugikan investor kecil. Pasar modal kini bertransformasi menjadi tempat aman untuk menyimpan masa depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut memberikan dukungannya. Ia berharap PINTAR Reksa Dana menjadi sarana perencanaan keuangan hingga masa pensiun. Program ini berjalan secara multiyears untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Investasi rutin menjadi langkah awal membangun budaya finansial yang sehat.
Mekanisme Systematic Investment Plan (SIP) dalam program ini diadopsi dari praktik global. Aliran dana yang stabil diharapkan membuat pasar modal lebih tangguh terhadap volatilitas. Ke depan, alternatif produk investasi akan terus diperluas, termasuk rencana menyertakan ETF emas.
“Jangan menunggu banyak untuk investasi, tapi harus teratur, rutin dan berkala,” tegas Airlangga dalam keynote speech miliknya.
Momentum Strategis
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut peluncuran program ini menjadi momentum strategis bagi pengembangan pasar modal nasional.
“Program PINTAR Reksa Dana yang dikolaborasikan dengan Program SIMUDA merupakan langkah konkret untuk memperluas akses dan juga mendorong partisipasi masyarakat lebih luas termasuk investor pemula,” kata Hasan.
Ia menjelaskan, pendalaman pasar perlu dilakukan secara terintegrasi melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan. Upaya ini tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah investor, tetapi juga kualitas ekosistem pasar.
“Pendalaman pasar tidak hanya diukur dengan peningkatan angka jumlah investor, akan tetapi juga upaya memperkuat kualitas ekosistem pasar,” ujar Hasan.
OJK juga mendorong peran aktif asosiasi dalam melakukan pengawasan mandiri atau self control. Langkah ini penting untuk mencegah potensi praktik yang tidak sesuai dengan ketentuan di industri pasar modal.
Menurut Hasan, pelaku industri yang telah bergabung dalam Program PINTAR Reksa Dana terdiri dari 30 Manajer Investasi dan 26 Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
Program ini diharapkan berkembang menjadi kampanye nasional yang berkelanjutan. Tujuannya membangun kebiasaan investasi yang sehat di masyarakat.
Pekan Reksa Dana 2026
Peluncuran program tersebut dilakukan bersamaan dengan pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 yang digelar oleh Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI). Kegiatan berlangsung pada 25 April hingga 1 Mei 2026 dan direncanakan menjadi agenda tahunan.
Ketua Presidium APRDI, Lolita Lilana, mengatakan industri reksa dana masih membutuhkan inovasi agar lebih diminati masyarakat.
“Program PINTAR Reksa Dana diharapkan dapat menggerakan masyarakat agar mulai berinvestasi rutin dan terencana untuk mencapai tujuan keuangan masa depan,” kata Lolita.
Ia menambahkan, APRDI bersama OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) telah melakukan edukasi di enam kota. Kegiatan tersebut berlangsung di Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Bandung, dan Palembang.
Program edukasi tersebut telah menjangkau 250 jurnalis dan 2.500 mahasiswa. Upaya ini diharapkan meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat di pasar modal, khususnya pada produk reksa dana.
Pemerintah terus mendorong keterlibatan lebih banyak pelaku industri. Partisipasi generasi muda yang mencapai 90% dari basis investor baru diharapkan menjadi penahan guncangan bagi pasar modal Indonesia.
Integrasi antara literasi, perlindungan konsumen, dan pertumbuhan industri harus berjalan seiringan. Program PINTAR bukan sekadar soal angka, melainkan tentang membangun masa depan bangsa. Dengan pasar modal yang inklusif dan berdaya saing, Indonesia siap menghadapi ketidakpastian ekonomi global dengan lebih percaya diri.
