back to top

Bursa Saham Asia Sepi karena Libur, tapi Mata Uang Kompak Menguat! Dolar Taiwan Cetak Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

STOCKWATCH.ID (TOKYO) Pasar saham Asia-Pasifik bergerak hati-hati pada pada akhir perdagangan Senin sore (5/5/2025) waktu setempat. Sebagian besar bursa tutup karena libur nasional. Namun, mata uang Asia justru kompak menguat terhadap dolar AS yang melemah.

Mengutip CNBC International, mata uang Taiwan jadi bintang utama. Dolar Taiwan menguat 5,77% terhadap dolar AS dan menyentuh level tertinggi dalam 3 tahun di posisi 28,93.

Yuan China versi offshore juga naik 0,21% ke posisi 7,196 per dolar AS. Ini merupakan level terkuat sejak November 2024. Namun, yuan versi onshore tidak banyak berubah.

Dolar Australia ikut terapresiasi 0,62% ke level 0,648 per dolar AS. Begitu juga dolar Singapura yang naik 0,62% ke 1,289 setelah partai berkuasa, People’s Action Party, mendapat mandat kuat dari pemilih.

Yen Jepang menguat 0,69% dan diperdagangkan di level 143,93 per dolar AS. Sementara rupee India juga naik 0,27% ke 84,26 per dolar AS.

Di pasar saham, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,97% dan ditutup di level 8.157,80. Penurunan ini terjadi usai kemenangan Perdana Menteri Anthony Albanese yang terpilih kembali untuk masa jabatan kedua.

Albanese jadi perdana menteri pertama Australia dalam 21 tahun yang berhasil mempertahankan kekuasaan untuk dua periode berturut-turut. Ini mencerminkan harapan publik untuk stabilitas kebijakan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di Taiwan, indeks Taiex anjlok 1,23% dan ditutup di level 20.532,99. Perdagangan berlangsung volatile sepanjang hari.

Di India, indeks Nifty 50 naik 0,47% ke 24.461,15, sementara BSE Sensex menguat 0,37% ke 80.796,84.

Saham-saham Grup Adani mengalami reli. Adani Enterprises melonjak 7,03%, Adani Green naik 6,68%, Adani Port naik 6,31%, Adani Power menguat 5,95%, dan Adani Energy bertambah 3,31%.

Kenaikan ini terjadi setelah laporan Bloomberg menyebutkan bahwa perwakilan Gautam Adani telah bertemu dengan pejabat pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump. Pertemuan itu membahas penyelesaian tuduhan suap luar negeri yang sedang diselidiki.

Bloomberg menyebut pembicaraan tersebut dimulai awal tahun ini dan semakin intens dalam beberapa minggu terakhir. Jika pembicaraan terus berlangsung lancar, penyelesaian kasus bisa terjadi dalam waktu dekat.

Mark Mobius, Chairman Mobius Emerging Opportunities Fund, menyebut India sebagai tujuan investasi paling menarik saat ini.

“Itu negara yang akan terus berkinerja sangat baik ke depan, bukan hanya karena pergeseran manufaktur dari China, tapi juga karena apa yang terjadi di dalam negeri,” ujarnya kepada CNBC.

Ia juga menyoroti populasi muda India yang cepat beradaptasi dengan teknologi global sebagai daya tarik utama bagi investor.

Selain India, Mobius juga menyebut Brasil, Vietnam, dan Taiwan sebagai pasar yang menjanjikan di kawasan ini.

Sementara itu, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% secara tahunan pada kuartal I 2025. Angka ini lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,02% dan juga di bawah ekspektasi ekonom yang memprediksi 4,91%.

Ini jadi laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal III 2021.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Ditutup Bervariasi, Saham Nvidia Anjlok Lebih Dari 5% 

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Mayoritas Bursa Eropa Menguat, Saham Puma dan Engie Melonjak

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada...

Efek ‘Takaichi Trade’ Bursa Saham Asia Kompak Menguat

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru