STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara baru ke wilayah Iran pada Rabu (10/6/2026) waktu setempat.
Mengutip BBC, langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump berjanji akan memukul Iran dengan keras. Trump menilai pemimpin Iran terlalu lama dalam membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah memulai serangan pertahanan diri tambahan. Sasaran serangan kali ini mencakup berbagai titik di Iran. Tindakan tersebut merupakan respons atas agresi Iran yang terus berlanjut.
Ledakan besar dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm yang terletak di Teluk. Suara ledakan juga terdengar di sejumlah kota lain seperti Bandar Abbas dan Sirik.
Situasi ini merupakan puncak dari aksi saling balas serangan sepanjang minggu ini. Pada Selasa, sebuah helikopter AS jatuh dalam serangan yang dituduhkan kepada Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian membalas dengan mengincar pangkalan AS di seluruh Timur Tengah.
Menanggapi serangan terbaru AS, komando militer tertinggi Iran mengambil langkah drastis. Mereka menutup total Selat Hormuz untuk semua jenis kapal. Jalur pelayaran ini merupakan saluran perdagangan yang sangat penting di selatan Iran.
Pihak militer Iran menegaskan tidak ada kapal komersial yang boleh melintas. Keputusan ini berpotensi mengganggu jalur logistik dunia.
Beberapa jam sebelum serangan, Trump memberikan peringatan melalui media sosial Truth Social. Ia menulis telah memukul Iran dengan keras kemarin dan akan melakukannya lagi hari ini.
Trump menyebut para pemimpin Iran memakan waktu terlalu lama untuk menegosiasikan kesepakatan. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bom akan dijatuhkan pada fasilitas utama di Iran.
Hegseth mengatakan Iran sudah diberikan kesempatan untuk membuat kesepakatan. Namun, kesempatan tersebut tidak diambil oleh pihak Teheran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya akan tetap berdiri teguh. Ia menyatakan Iran tidak akan goyah menghadapi tekanan atau ancaman apa pun.
Kementerian Luar Negeri Iran ikut bersuara. Mereka menuduh AS merusak proses diplomatik dengan mengirimkan pesan yang bertentangan.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada April. Namun, kedua belah pihak masih terus terlibat baku tembak secara berkala. Upaya negosiasi kini menemui jalan buntu dan serangan justru semakin meningkat

