STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menunjukkan pelemahan pada perdagangan kontrak berjangka (futures) Rabu malam (10/06/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (11/06/2026) WIB. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan serangan tambahan ke Iran.
Mengutip CNBC, indeks berjangka (futures) S&P 500 turun 0,3%. Nasdaq 100 futures merosot 0,5%. Sementara itu, indeks berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) kehilangan 147 poin atau turun 0,3%.
Pasukan Komando Sentral AS (Centcom) meluncurkan lebih banyak serangan bela diri terhadap Iran pada Rabu malam. Serangan tersebut dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump. Kabar ini membuat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2% ke level USD 92 per barel.
Sebelumnya, pada sesi perdagangan reguler Rabu, Wall Street juga sudah babak belur. Indeks Dow Jones anjlok 953,33 poin atau 1,87%. S&P 500 jatuh 1,62% dan Nasdaq merosot 1,98%.
Victoria Fernandez, Chief Market Strategist di Crossmark Global Investments, memberikan analisanya. Ia menilai banyak investor mulai mencari perlindungan dengan keluar dari saham teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Saya pikir apa yang orang-orang katakan adalah, ke mana kita bisa pergi yang bisa menjadi lindung nilai dari perdagangan teknologi itu? Apa yang akan menjadi kebalikan dari momentum dan beta?” ujar Victoria dalam acara “Closing Bell” CNBC pada Rabu sore.
Victoria melihat adanya perputaran dana dari sektor teknologi ke bidang lain yang sempat tertekan. Kliennya mulai banyak memasukkan uang ke sektor farmasi, bioteknologi, keuangan, hingga sektor energi.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah Trump memberi peringatan keras. Ia menganggap pihak Iran terlalu lama menyetujui kesepakatan. Trump menyebut mereka akan menanggung akibatnya. Ia berjanji akan terus menyerang Iran dengan sangat keras.
Kini, investor fokus menunggu rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) bulan Mei pada Kamis pagi waktu setempat. Para ekonom memperkirakan inflasi grosir bulanan naik 0,7%.
Inflasi inti, yang tidak menghitung harga makanan dan energi, diperkirakan naik 0,5%. Angka ini lebih rendah dari kenaikan bulan April. Selain data inflasi, pasar juga memantau data klaim pengangguran mingguan AS.

