spot_img

BI Rate Naik Jadi 5,50%, BNI Tetap Fokus Salurkan Kredit ke Sektor Riil

STOCKWATCH.ID (JAKARTA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% merupakan langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah dinamika global. Meski suku bunga naik, BNI menegaskan tetap menjalankan fungsi intermediasi secara selektif dan produktif guna mendukung sektor riil.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan kebijakan moneter Bank Indonesia merupakan respons yang terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan tekanan inflasi, serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

“Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (10/6/2026).

Menurut Okki, stabilitas makroekonomi menjadi prasyarat penting bagi sektor perbankan untuk menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan. Dengan kondisi pasar yang lebih terkendali, perbankan memiliki ruang untuk menjaga penyaluran pembiayaan secara prudent, selektif, dan produktif.

Meski demikian, BNI tetap mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit. Perhatian khusus diberikan pada sektor usaha yang sensitif terhadap perubahan biaya dana.

Perseroan juga akan terus menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan kondisi makroekonomi, arah kebijakan moneter, serta kebutuhan pembiayaan nasabah.

Di tengah dinamika suku bunga, BNI memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis. Pemanfaatan teknologi digital dilakukan pada berbagai aspek operasional, mulai dari pengembangan layanan perbankan, peningkatan pengalaman nasabah, hingga optimalisasi proses kredit agar lebih cepat, efektif, dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Selain transformasi digital, BNI memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) serta manajemen risiko yang disiplin. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas aset dan memperkuat ketahanan bisnis.

BNI juga secara konsisten memantau portofolio kredit, profil risiko, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko yang berkelanjutan.

“Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Okki.

Ke depan, BNI akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif. Perseroan menegaskan komitmennya menjaga kinerja berkelanjutan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional melalui dukungan permodalan, likuiditas yang memadai, dan pengelolaan risiko yang prudent.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BRI Bawa QRIS Cross Border BRImo ke China, Transaksi Wisatawan Indonesia Kini Makin Praktis

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Bidik Penjualan Rp300,3 Miliar di 2026, Hatten Bali (WINE) Siap Ekspansi dan Inovasi Produk

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Hatten Bali Tbk (WINE) menargetkan...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru