Harga Minyak Naik 2%! Pasar Deg-Degan Menunggu Hasil Pertemuan Trump–Putin

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia bergerak naik sekitar 2% pada akhir perdagangan Kamis (14/8/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (15/8/2025) WIB. Harga komoditas ini menembus level tertinggi dalam sepekan. Kenaikan ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam “konsekuensi serius” jika pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin soal Ukraina gagal membuahkan hasil.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bulan depan juga ikut mendorong sentimen positif. Penurunan suku bunga dapat memangkas biaya pinjaman, memacu pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan permintaan minyak.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent naik US$1,21 atau 1,84% menjadi US$66,84 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,31 atau 2,09% mencapai US$63,96 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kenaikan ini mengangkat Brent ke jalur penutupan tertinggi sejak 6 Agustus dan WTI keluar dari area jenuh jual untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Sebelumnya, harga sempat anjlok ke level terendah dalam lebih dari dua bulan akibat data persediaan dan pasokan yang lemah dari Badan Informasi Energi AS dan Badan Energi Internasional.

Trump menyebut dirinya yakin Putin siap membuat kesepakatan mengakhiri perang di Ukraina, sehari setelah Presiden Rusia itu membuka kemungkinan perjanjian senjata nuklir jelang pertemuan puncak di Alaska. Namun, pada Rabu, Trump menegaskan akan ada “konsekuensi serius” jika Putin menolak perdamaian. Ia tidak merinci bentuknya, tetapi pernah mengancam sanksi ekonomi jika pembicaraan berujung buntu.

Rusia adalah produsen minyak terbesar kedua di dunia pada 2024 setelah AS. Kesepakatan yang melonggarkan sanksi terhadap Moskow bisa meningkatkan pasokan minyak Rusia ke pasar global. Trump juga mengancam akan mengenakan tarif sekunder kepada pembeli minyak Rusia, terutama China dan India, jika konflik Ukraina berlanjut.

“Ketidakpastian pembicaraan damai AS–Rusia terus menambah premi risiko bullish mengingat pembeli minyak Rusia bisa menghadapi tekanan ekonomi lebih besar,” tulis Rystad Energy dalam catatan kepada klien.

Di sisi lain, sebagian analis ragu Trump akan mengambil langkah yang benar-benar mengganggu pasokan minyak secara signifikan.

Pasar juga mengantisipasi keputusan The Fed. Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga pada September setelah inflasi konsumen AS naik moderat di Juli. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menilai pemangkasan agresif sebesar 0,5% mungkin terjadi melihat lemahnya data ketenagakerjaan.

Namun, The Fed menghadapi dilema karena harga produsen AS naik tertinggi dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan biaya barang dan jasa, yang mengindikasikan potensi inflasi lebih tinggi di depan.

Dari sektor energi global, investasi minyak dan gas Norwegia diperkirakan mencapai puncak tahun ini sebelum menurun pada 2026 seiring rampungnya proyek-proyek besar. Norwegia memproduksi sekitar 2% minyak dunia dan kini menjadi pemasok gas pipa terbesar di Eropa sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Di Meksiko, Presiden Claudia Sheinbaum mengumumkan mantan CEO perusahaan minyak negara Pemex, Carlos Trevino, ditangkap di Amerika Serikat. Ia akan dideportasi untuk menghadapi persidangan kasus korupsi di Meksiko.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harapan Damai AS-Iran Berhembus, Harga Emas Dunia Kembali Terkerek

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Tunggu Respons Damai Iran, Harga Minyak Dunia Tergelincir Tipis

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 1%...

Sentimen Damai AS-Iran Jadi Angin Segar, Harga Emas Dunia Terkerek Naik 2,7%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia menyentuh level...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru