STPCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, menyebut tahun 2025 menjadi periode yang sangat strategis bagi perekonomian nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
“Tahun 2025 merupakan periode yang sangat strategis bagi perekonomian nasional. Kita memasuki tahun pertama pemerintahan baru dengan arah kebijakan pembangunan yang mulai terformulasikan dan menuntut kesiapan seluruh sektor keuangan untuk beradaptasi dan mendukung prioritas nasional,” ujar Inarno.
Ia menyampaikan kondisi eksternal global masih penuh tantangan. Normalisasi kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik, moderasi pertumbuhan Tiongkok, serta volatilitas harga komoditas turut memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Pada saat yang sama, lingkungan eksternal juga masih dibayangi ketidakpastian global,” kata Inarno.
Di tengah kondisi tersebut, stabilitas ekonomi nasional dinilai tetap terjaga. Pergantian Menteri Keuangan juga memberi optimisme baru bagi pengembangan pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan.
“Di tengah dinamika tersebut, stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga,” ujar Inarno.
Menurut Inarno, pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin kuat sepanjang 2025. Ketahanan tersebut menjadi hasil sinergi seluruh pemangku kepentingan industri pasar modal.
“Capaian ini tentu saja tidak terjadi secara kebetulan, ya, tetapi merupakan hasil dan kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” katanya.
Ia mengingatkan perjalanan pasar modal sepanjang 2025 sempat diwarnai tekanan pada akhir triwulan I akibat sentimen negatif perdagangan global. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu pulih dan kembali ke tren positif.
“Indeks Harga Saham Gabungan mampu pulih dan kembali berada pada tren yang positif,” ucap Inarno.
Pemulihan tersebut ditopang kebijakan adaptif dari OJK dan seluruh Self Regulatory Organization (SRO). Kebijakan tersebut meliputi buyback tanpa RUPS, penyesuaian batasan trading halt, serta penerapan asymmetric auto rejection.
Hingga 30 Desember 2025, IHSG tumbuh 22.13% secara year to date dan ditutup di level 8,644.26. Kapitalisasi pasar tercatat menembus Rp15,878,568 triliun atau tumbuh 28.16% year to date. Capaian ini melampaui target Roadmap Pasar Modal dan RPJMN, dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB 2024 sebesar 71.72%.
Di pasar obligasi, hingga 29 Desember 2025, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 12.10% year to date ke level 440.19.
Kinerja penghimpunan dana di pasar modal juga mencatatkan pertumbuhan positif. Total fund raising mencapai Rp268.14 triliun dari 210 penawaran umum. Jumlah tersebut mencakup 18 emiten baru saham dan 2 emiten baru Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), melampaui target Rp220 triliun.
Industri pengelolaan investasi turut mencatatkan lonjakan kinerja. Nilai dana kelolaan mencapai Rp1,039 triliun atau tumbuh 24.16% year to date, melebihi target dalam roadmap 2027.
“Adapun kinerja industri pengelolaan investasi juga meningkat secara tajam, ya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Inarno.
Pertumbuhan investor ritel mencetak rekor baru. Jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5.34 juta investor baru sepanjang 2025. Total SID mencapai 20.2 juta, dengan 79% didominasi generasi di bawah 40 tahun.
“Jumlah SID mencatatkan capaian yang luar biasa,” ujar Inarno.
Dari sisi perdagangan karbon, OJK mencatat volume transaksi kumulatif sejak 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025 mencapai 1.6 juta ton CO2 ekuivalen. Nilai transaksi tercatat Rp80.75 miliar, dengan partisipasi 150 perusahaan dan ketersediaan unit karbon 2.67 juta ton CO2 ekuivalen.
Sementara itu, aktivitas transaksi keuangan derivatif dengan underlying effect sepanjang 2025 juga meningkat. Total volume transaksi hampir mencapai 1 juta lot atau tepatnya 997,018 lot hingga akhir Desember 2025.
