STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis sore (22/1/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (23/1/2026) WIB. Tiga indeks utama melanjutkan reli kenaikan dari sesi sebelumnya. Investor merespons positif meredanya kekhawatiran geopolitik global.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 306,78 poin atau 0,63% ke level 49.384,01. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,55% dan berakhir di posisi 6.913,35. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,91% menjadi 23.436,02.
Kenaikan Nasdaq didorong oleh performa positif saham teknologi raksasa. Saham Nvidia, Microsoft, dan Meta Platforms menjadi motor penggerak utama. Penguatan ini sekaligus menghapus kerugian awal pekan akibat ancaman tarif baru terhadap Eropa.
Sentimen pasar membaik setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terbaru. Trump membatalkan rencana pengenaan tarif impor terhadap delapan negara Eropa. Rencananya, tarif tersebut mulai berlaku pada 1 Februari mendatang.
Trump juga mengumumkan adanya kesepakatan “kerangka kerja” terkait wilayah Greenland. Hal ini ia sampaikan usai bertemu Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyebut proses tersebut sebagai konsep kesepakatan.
Sebelumnya, Trump sempat meredakan ketegangan dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss. Ia menegaskan tidak akan mengambil alih Greenland dengan cara kekerasan. Pernyataan ini langsung memicu pembalikan arah pasar dari aksi jual besar-besaran pada Selasa lalu.
Eric Parnell, Chief Market Strategist di Great Valley Advisor Group, memberikan analisanya. Ia menilai pasar tetap kokoh meski sempat terguncang isu politik.
“Ketika Anda melihat di balik permukaan pasar dan menjauh dari S&P 500 yang tertimbang kapitalisasi pasar yang sangat didominasi oleh [‘Magnificent Seven’] dan nama-nama megacap besar di puncak indeks, seolah-olah pasar tidak berhenti berdetak sama sekali,” ujar Parnell dalam wawancara dengan CNBC.
Parnell menilai retorika dari Gedung Putih merupakan bagian dari strategi diplomasi. Investor justru melihat gejolak tersebut sebagai celah untuk masuk ke pasar.
“Seringkali kata-kata yang keluar dari Gedung Putih, itu semua adalah bagian dari negosiasi yang lebih besar dan ada hasil tertentu yang sedang dikejar, sehingga setiap kebisingan yang terjadi di tengah proses yang berlangsung lebih sering daripada tidak … itu berubah menjadi peluang beli,” tambah Parnell. “Fundamental yang mendasari pasar terus kuat.”
Di sisi lain, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menanggapi dingin isu kedaulatan wilayahnya. Meski siap berdialog soal keamanan Arktik, ia menegaskan kedaulatan Denmark tidak bisa ditawar.
“Kerajaan Denmark ingin terus terlibat dalam dialog konstruktif dengan sekutu mengenai bagaimana kita dapat memperkuat keamanan di Arktik, termasuk Golden Dome AS, asalkan hal ini dilakukan dengan menghormati integritas teritorial kami,” tegas Frederiksen.
Meski Wall Street menguat dalam dua hari terakhir, performa mingguan masih bervariasi. Indeks Dow Jones mencatatkan kenaikan tipis sepanjang minggu ini. Namun, S&P 500 masih terkoreksi 0,4% dan Nasdaq turun 0,3% dalam periode mingguan.
