back to top

Ketegangan Geopolitik Mereda, Harga Minyak Dunia Terpangkas 2%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada akhir perdagangan Kamis (22/1/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (23/1/2026) WIB. Penurunan ini membawa harga minyak ke level terendah dalam satu pekan terakhir. Melunaknya sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Greenland dan Iran menjadi pemicu utamanya.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun 1,18 USD atau 1,81%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 64,06 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 1,26 USD atau 2,08%. Minyak WTI berakhir pada posisi 59,36 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kekhawatiran pasar mereda setelah Trump memberikan pernyataan terkait Greenland. Ia mengaku telah mengamankan akses penuh dan permanen AS ke wilayah tersebut melalui kesepakatan dengan NATO. Kabar ini mendinginkan tensi hubungan transatlantik yang sempat memanas.

Ole Hansen, Chief Commodity Analyst di Saxo Bank, memberikan analisanya terkait situasi ini. “Ada pengempisan premi risiko terkait kegagalan Greenland dan risiko pasokan Iran juga telah berkurang,” ujar Ole Hansen.

Trump juga menyatakan harapannya agar tidak ada lagi aksi militer AS di Iran. Namun, ia menegaskan AS akan bertindak jika Iran melanjutkan program nuklirnya. Iran saat ini merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC.

Tony Sycamore, seorang analis dari broker online IG, menilai kondisi ini positif bagi stabilitas harga. Ia memprediksi harga minyak akan bertahan di kisaran 60 USD per barel seiring berkurangnya ketegangan tersebut.

Sinyal damai dalam perang Rusia-Ukraina turut menekan harga si emas hitam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut ketentuan jaminan keamanan untuk negaranya telah difinalisasi. Langkah ini diharapkan menjadi jalan keluar untuk mengakhiri konflik.

Jika perdamaian tercapai, sanksi terhadap Rusia kemungkinan besar akan dicabut. Hal ini akan meningkatkan pasokan minyak mentah di pasar global. Rusia sendiri menduduki posisi sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia.

Kabar dari Venezuela juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Draft reformasi hukum migas di negara tersebut memungkinkan perusahaan asing mengoperasikan ladang minyak secara mandiri. Peningkatan produksi dari Venezuela diprediksi dapat menurunkan harga minyak lebih lanjut.

Di sisi lain, bos produsen minyak terbesar dunia memberikan pandangan berbeda. Amin Nasser, Chief Executive Saudi Aramco, menilai kekhawatiran kelebihan pasokan tidak sepenuhnya benar.

“Prediksi kelebihan pasokan minyak global sangat dilebih-lebihkan karena pertumbuhan permintaan tetap kuat dan stok minyak global menipis,” kata Amin Nasser.

Tekanan terhadap harga minyak semakin kuat setelah rilis data stok energi AS. Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan penambahan stok minyak mentah sebesar 3,6 juta barel untuk pekan yang berakhir 16 Januari.

Angka kenaikan stok ini jauh melampaui perkiraan para analis. Sebelumnya, jajak pendapat Reuters memprediksi kenaikan hanya sebesar 1,1 juta barel. Penumpukan stok yang lebih besar dari perkiraan biasanya menjadi indikasi melemahnya permintaan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tertekan Dolar AS dan Isu Inflasi, Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 1%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot lebih dari...

Trump Berencana Ambil Alih Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot Tajam

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 6%...

Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Harga Emas Dunia Kembali Bersinar

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia kembali mencetak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru