STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup memerah pada akhir perdagangan Jumat sore (30/1/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (31/1/2026) WIB. Pelemahan ini dipicu oleh rontoknya saham-saham teknologi. Meski demikian, tiga indeks utama tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang bulan Januari.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York turun 179 poin atau 0,36% ke level 48.892,47. Indeks S&P 500 (SPX) juga melemah 0,43% dan berakhir di posisi 6.939,03. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, terkoreksi 0,94% menjadi 23.461,82.
Kinerja teknologi menjadi pemberat utama pasar pada sesi kali ini. Saham KLA Corp merosot lebih dari 15% setelah memprediksi perlambatan pertumbuhan. Microsoft juga masih tertekan setelah sebelumnya kehilangan kapitalisasi pasar lebih dari 350 miliar USD. Di sisi lain, saham Verizon justru melonjak hampir 12% berkat laporan keuangan yang kuat.
Sentimen pasar sempat mendapat angin segar dari keputusan Presiden Donald Trump. Trump resmi memilih Kevin Warsh untuk memimpin Federal Reserve (Fed). Langkah ini dinilai dapat meredakan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral Amerika Serikat tersebut.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump memberikan pujian kepada pilihannya. Ia meyakini kredibilitas Warsh akan membawa dampak besar bagi ekonomi.
“Saya telah mengenal Kevin sejak lama, dan tidak ragu ia akan tercatat sebagai salah satu Ketua Fed yang HEBAT, mungkin yang terbaik,” ujar Trump.
Richard Saperstein, Chief Investment Officer Treasury Partners, memberikan pandangannya. Ia menyebut pemilihan Warsh sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Warsh dianggap sebagai sosok yang memiliki posisi kuat terhadap inflasi.
“Pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Fed adalah hal yang diharapkan pasar, karena ia sosok yang tenang, dikenal baik di kalangan pasar dan diharapkan dapat menjaga independensi bank sentral, yang sangat penting bagi pasar,” kata Saperstein.
Selain masalah suku bunga, pasar juga dikejutkan oleh jatuhnya harga logam mulia. Harga perak di pasar spot anjlok sekitar 28%, sementara emas turun sekitar 9%. Penurunan tajam ini merupakan imbas dari pecahnya gelembung spekulasi pada aset tersebut.
Matt Maley, Chief Market Strategist di Miller Tabak, menjelaskan fenomena ini. Ia menyoroti adanya aksi jual paksa akibat penggunaan dana pinjaman (leverage) oleh para trader.
“Ini telah menjadi aset terpanas bagi para pedagang harian dan pedagang jangka pendek lainnya baru-baru ini. Ada beberapa leverage yang menumpuk di perak. Dengan penurunan besar hari ini, margin call pun keluar,” jelas Maley.
Walaupun menutup pekan dengan lesu, investor masih bisa bernapas lega. Sepanjang Januari, indeks S&P 500 dan Dow Jones tetap tumbuh masing-masing 1,4% dan 1,7%. Nasdaq juga membukukan kenaikan 1% dalam periode bulanan. Lonjakan tertinggi diraih indeks Russell 2000 yang melesat lebih dari 5%.
