back to top

Menkeu Purbaya Perpanjang Titipan Rp200 Triliun, BRI: Likuiditas Bank Makin Aman

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperpanjang masa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL). Nilai titipan dana pemerintah ini mencapai Rp200 triliun. Masa penempatannya di perbankan kini diperpanjang hingga September 2026. Sebelumnya, dana jumbo ini dijadwalkan jatuh tempo pada 13 Maret 2026.

Dana ratusan triliun ini mengalir deras ke bank-bank milik negara atau Himbara. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk masing-masing mendapat jatah Rp55 triliun. Sisanya dibagikan kepada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Viviana Dyah Ayu Retno menyambut gembira keputusan tersebut. Kebijakan ini dinilai sangat positif bagi industri perbankan. Stabilitas likuiditas perbankan nasional dipastikan makin kuat dan terjaga.

“Transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil itu juga akan semakin terjaga,” ujar Viviana dalam keterangan kinerja BRI secara daring di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Secara keseluruhan, BRI sebenarnya menerima total dana SAL sebesar Rp80 triliun. Rinciannya terdiri atas Rp55 triliun dari alokasi Rp200 triliun Himbara. Perseroan juga pernah mendapat kucuran fase kedua sebesar Rp25 triliun. Namun, dana fase kedua ini bersifat jangka pendek dan tidak diperpanjang.

BRI telah menyalurkan seluruh dana SAL tersebut menjadi pinjaman kepada masyarakat. Sasarannya mencakup berbagai segmen debitur. Mulai dari segmen mikro, Usaha Kecil dan Menengah (SME), konsumer, hingga sedikit porsi untuk korporasi. Segmen mikro tampil sebagai primadona dengan menyerap hampir 50% dari total penyaluran SAL di BRI.

Aliran kredit ini menyentuh sektor-sektor penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor perdagangan besar maupun eceran mendapat kucuran dana. Begitu pula dengan sektor pertanian, kehutanan, hingga perikanan.

Perpanjangan masa penempatan SAL ini menumbuhkan optimisme tinggi. Pertumbuhan kredit perbankan ke depan diyakini akan mendapat dorongan positif. Namun, realisasi penyaluran kredit ini tetap bergantung pada kondisi dan kesiapan di lapangan.

“Selain itu juga kredit perbankan itu perlu kita cermati… sangat ditentukan oleh kualitas dari permintaan atau supply-nya dan kesiapan dari sektor riilnya itu sendiri,” pungkas Viviana.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Kantong Tebal dan Punya Modal Kuat, Bos BRI Sinyalkan Bagi Dividen Jumbo

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Anjlok 85,27%, Bank Panin Dubai Syariah (PNBS) Bukukan Laba Rp20,02 Miliar pada 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Panin Dubai SyariahTbk (PNBS) membukukan...

Puradelta Lestari (DMAS) Targetkan Prapenjualan Rp2,08 Triliun pada 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Emiten pengembang kawasan modern terpadu Kota Deltamas,...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru